comscore

Siap-siap, Bank Sentral AS, Eropa, hingga Tiongkok Mulai Kurangi Stimulus

Fetry Wuryasti - 11 Oktober 2021 15:57 WIB
Siap-siap, Bank Sentral AS, Eropa, hingga Tiongkok Mulai Kurangi Stimulus
Ilustrasi grafik stimulus bank sentral - - Foto: Medcom
Jakarta: Bank Sentral di sejumlah negara mulai mengurangi pembelian obligasi di pasar atau stimulus yang sebelumnya digelontorkan demi menekan dampak ekonomi akibat covid-19.

Beberapa negara seperti Norwegia, Brasil, Meksiko, Korea Selatan, dan Selandia Baru juga menaikkan tingkat suku bunga mereka seiring semakin pulihnya ekonomi masing-masing negara.
Saat ini inflasi di semua negara berjalan dengan konsisten dan belum ada tanda-tanda penurunan angka inflasi karena kekuatan perekonomian yang kian menunjukkan eksistensinya.

Inflasi juga terlihat semakin bertahan akibat adanya gangguan pasokan yang menyebabkan rantai pasokan menjadi terganggu, ditambah lagi dengan adanya krisis energi di berbagai negara yang mendorong harga komoditas mengalami kenaikan.

Ketika aktivitas perekonomian dibuka, permintaan mengalami kenaikan karena banyaknya dana yang siap untuk dibelanjakan. Sehingga saat ini Bank Sentral tengah galau mana yang akan menjadi prioritas mereka.

"Kami khawatir banyak Bank Sentral yang cukup khawatir bahwa pemulihan akan menjadi melambat seperti yang terjadi di Tiongkok saat ini," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Senin, 11 Oktober 2021.

Sejauh ini kebijakan moneter yang lebih ketat diharapkan dapat membantu menahan inflasi, namun alih-alih akan menambah tekanan terhadap perekonomian. Inflasi yang diproyeksikan akan naik sebentar namun tidak semudah menghilang tertiup angin.

Bahkan inflasi diperkirakan akan bertahan lebih lama dari yang diharapkan. IMF sendiri memperkirakan bahwa di negara maju, inflasi akan mengalami penurunan setidaknya hingga berada di kisaran dua persen.

Kurangi pembelian aset obligasi

Beberapa bank sentral yang mulai mengurangi pembelian aset obligasi yaitu pertama The Fed. Gubernur The Fed Jerome Powell mulai mengumumkan fase Taper Tantrum yang akan dimulai pada November.

Inflasi di Amerika sejauh ini konsisten untuk berada di level di atas lima persen, yang membuat khawatir bahwa inflasi dapat bertahan lebih lama di level ini. Sejauh ini para pejabat The Fed juga melihat bahwa kenaikan tingkat suku bunga mungkin terjadi pada 2023 setelah fase Taper Tantrum usai.

"Namun menilik situasi dan kondisi yang terjadi saat ini terkait dengan inflasi, kami melihat bahwa ada kemungkinan The Fed akan menaikkan tingkat suku bunga pada akhir 2022 untuk menjaga inflasi agar tetap terkendali. Namun asumsi ini dipakai apabila ternyata inflasi tidak bisa dikendalikan ke depannya," kata Nico.

Kemudian, Bank Sentral Eropa, yang inflasinya di Eropa mulai lebih dari 3 persen secara (yoy). Hal tersebut membuat para pembuat kebijakan di Bank Sentral Eropa akan melakukan pembaharuan kebijakan utama pada bulan Desember mendatang untuk membuat proyeksi kemajuan perekonomian hingga 2024.

Gubernur Bank Sentral Eropa Christine Lagarde memutuskan untuk memangkas pembelian obligasinya di bawah 1,85 triliun euro atau USD2,2 triliun pada kuartal 4 2021 dan akan berakhir pada Maret 2022.

Skema stimulus setelah 2021 masih terus dibahas dan menjadi perdebatan, karena masih banyak para pejabat yang menganjurkan Bank Sentral Eropa untuk lebih flexible dalam menghadapi perubahan kebijakan.

Ketiga, Bank Sentral Jepang. Di tengah perubahan komposisi pemerintahan yang ada saat ini, Gubernur Bank Sentral Jepang, Haruhiko Kuroda berkesempatan untuk bekerja sama dengan Perdana Menteri baru nantinya, yaitu Fumio Kishida.

Bank Sentral Jepang sendiri sudah memutuskan untuk terus melanjutkan dukungan terhadap perekonomian dengan terus memberikan stimulus hingga Maret 2022. Dewan kebijakan Bank Sentral Jepang masih terus mengawasi dan melihat apakah pemulihan dapat mendorong permintaan naik atau tidak.

Sejauh ini pemulihan ekonomi di Jepang mulai menunjukkan tanda-tanda, lockdown telah dibuka dan penetrasi vaksin terus meningkat. Oleh karena itu harapannya adalah inflasi yang selama ini selalu berada di bawah target, akan naik sama seperti negara lain.

"Namun sayangnya kami melihat bahwa inflasi Jepang masih akan sangat sulit untuk naik. Maka kami melihat stimulus masih akan diberikan untuk waktu yang lebih lama dari pada tetangga Bank Sentral Jepang itu sendiri. Ketertinggalan Bank Sentral Jepang yang jauh dibelakang akan sangat sulit bagi Bank Sentral Jepang untuk menghentikan stimulus," kata Nico.

Terakhir, Bank Sentral Tiongkok juga mulai bertahap membatasi perkembangan kredit untuk mengatasi risiko keuangan tahun ini. Namun pemulihan perekonomian yang kian melambat, membuat Bank Sentral Tiongkok berpikir dua kali untuk menghentikan stimulus.

Oleh karena itu mereka mulai mengurangi Giro Wajib Minimum, agar bank-bank di Tiongkok memiliki likuiditas yang terjaga untuk meningkatkan pinjaman bagi usaha kecil yang dirugikan dari dampak kenaikkan harga komoditas.

Risiko pertumbuhan ekonomi yang kian mengalami pelemahan membuat Bank Sentral Tiongkok semakin hati hati dalam menerapkan kebijakan. Apabila prospek pelemahan ini terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin mereka akan kembali menurunkan Giro Wajib Minimumnya ditambah dengan pemangkasan tingkat suku bunga.

(Des)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id