Pemulihan Ekonomi Terbatas, BI Masih Perlu Tahan Suku Bunga

    Husen Miftahudin - 20 September 2021 15:31 WIB
    Pemulihan Ekonomi Terbatas, BI Masih Perlu Tahan Suku Bunga
    Bank Indonesia (BI). Foto: MI/Usman Iskandar



    Jakarta: Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menilai Bank Indonesia (BI) masih perlu mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate untuk periode September 2021 di level 3,50 persen. Sebab, dukungan pemulihan ekonomi masih diperlukan di tengah pemberlakuan kebijakan PPKM.

    "Mempertimbangkan situasi yang ada saat ini, Bank Indonesia perlu mempertahankan suku bunga kebijakannya pada angka 3,50 persen sambil terus memantau perkembangan situasi akibat covid-19 dan menjaga kondisi finansial agar tetap stabil," kata Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam rilis Analisis Makroekonomi, Senin, 20 September 2021.

     



    Riefky mengungkapkan, kasus infeksi covid-19 yang mulai menurun secara positif mempengaruhi beberapa indikator makro dan keuangan. Hal ini ditandai dengan performa Purchasing Managers' Index (PMI) sektor manufaktur yang menunjukkan adanya sedikit peningkatan.

    "Dukungan dari IMF (Dana Moneter Internasional) untuk negara anggota juga berpengaruh terhadap peningkatan stabilitas dari sisi eksternal. Akan tetapi, masih diberlakukannya PPKM membuat usaha perbaikan dan pemulihan ekonomi menjadi lebih terbatas," tuturnya.

    Hal ini ditunjukkan dengan angka inflasi yang masih rendah, serta Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) yang masih menunjukkan adanya pola penurunan. Lebih dari itu, mutasi virus covid-19 menjadi beberapa varian, mulai dari MU, Lambda, serta C.1.2, juga memberi tekanan lebih lanjut pada aspek kesehatan publik secara khusus dan kondisi ekonomi secara umum.

    "Ditemukannya varian baru hasil mutasi virus covid-19 juga membuat munculnya peluang baru dalam lonjakan angka kasus, jika pemerintah dan masyarakat tidak secara matang melakukan antisipasi," jelas Riefky.

    Di sisi lain, adanya kebijakan Local Currency Settlement (LCS) antara BI dan People's Bank of China (PBOC) justru memberikan angin segar bagi keberlangsungan industri, dengan adanya potensi turunnya ketidakpastian arus perdagangan seiring makin stabilnya nilai tukar, mengingat Tiongkok telah lama menjadi mitra dagang utama bagi Indonesia.

    "Lebih jauh, hal tersebut juga sejalan dengan usaha Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar secara khusus dan kondisi makroprudensial secara umum," pungkas Riefky.
     

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id