comscore

Restrukturisasi Kredit Turun dari Rp900 Triliun Jadi Rp714 Triliun

Husen Miftahudin - 27 November 2021 21:10 WIB
Restrukturisasi Kredit Turun dari Rp900 Triliun Jadi Rp714 Triliun
Ilustrasi grafik relaksasi kredit perbankan ke pengusaha - - Foto: dok BI
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penurunan restrukturisasi kredit perbankan dari sekitar Rp900 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp714 triliun pada posisi 31 Oktober 2021. Adapun relaksasi kredit diberikan bagi pelaku usaha yang terkena dampak pandemi covid-19.

"Kebijakan itu mendapat respons sangat positif dari pelaku usaha dan industri perbankan, tercermin dari jumlah kredit terdampak covid-19 yang direstrukturisasi," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana dikutip dari siaran persnya, Jumat, 27 November 2021.
 
Di sisi lain, Heru menuturkan bahwa berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan OJK serta didukung dengan kondisi perekonomian yang membaik, berimplikasi positif terhadap stabilitas serta kinerja perbankan.
Pada posisi Oktober 2021 fungsi intermediasi terus meningkat dengan pertumbuhan kredit sebesar 3,24 persen (yoy) dan peningkatan penghimpunan Dana Pihak ketiga (DPK) sebesar 9,44 persen (yoy) yang didukung dengan risiko kredit yang terkendali NPL gross 3,22 persen.

Begitu juga kondisi likuiditas yang sangat memadai yang tercermin pada rasio AL/DPK dan AL/NCD masing-masing sebesar 154,59 persen dan 34,05 persen, yang berarti di atas ambang batas ketentuan masing-masing pada level 50 persen dan 10 persen.

Ketahanan modal perbankan yang kuat juga terus menguat untuk mendukung pertumbuhan usaha dan menyerap kerugian. Ini tercermin pada rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) industri perbankan yang mencapai 25,34 persen atau jauh di atas ketentuan CAR minimum sesuai profil risiko.

Stabilitas sistem keuangan masih terjaga

Meskipun demikian, tegas Heru, OJK akan terus menjaga stabilitas dan kinerja industri perbankan untuk menghadapi tantangan ke depan terutama perkembangan perekonomian global yang dinamis, dampak pandemi covid-19 yang belum selesai, transformasi digital yang semakin cepat, dan tuntutan atas perkembangan industri yang ramah lingkungan.

"Strategi kebijakan yang telah disusun oleh OJK tidak akan berjalan optimal tanpa adanya dukungan dari pemerintah, lembaga otoritas lain, pelaku usaha, dan industri jasa keuangan. Oleh karena itu diperlukan sinergi yang kuat untuk membangun optimisme baru guna mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional," pungkas Heru.

(Des)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id