comscore

Siap-siap, IHSG Bakal Tembus 7.600 di 2022

Fetry Wuryasti - 07 Desember 2021 15:52 WIB
Siap-siap, IHSG Bakal Tembus 7.600 di 2022
Ilustrasi. Foto: AFP/Adek Berry.
Jakarta: Situasi dan penanganan pandemi sempat membuat kinerja pasar saham sempat tertinggal. Namun, perbaikan penanganan dan kondisi fundamental yang semakin kuat membuat pasar saham menawarkan peluang pertumbuhan membaik di 2022.

Selain itu, prospek pemulihan ekonomi yang lebih kuat dan berdaya tahan mendorong normalisasi pertumbuhan profitabilitas perusahaan ke level yang lebih sehat di 2022.
Hal lainnya adalah peluang pertumbuhan e-economy yang cerah mendorong tingginya minat investor, terutama didukung oleh potensi inklusi pada indeks saham global dan rencana IPO beberapa saham ekonomi digital di 2022.

Senior Portfolio Manager, Equity, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Samuel Kesuma mengatakan, pada 2022, pihaknya mempertahankan posisi overweight pada sektor inti yang mendapatkan manfaat dari perubahan struktural, seperti e-economy, green economy, dan telekomunikasi.

Sementara itu, secara selektif posisi overweight juga berlaku pada beberapa sektor yang menjadi proxy pembukaan kembali ekonomi, seperti finansial, otomotif, dan properti.

"Kami memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan berada di level 7.600 pada 2022," kata Samuel, dalam webinar Indonesia Market Outlook 2022: Back on the Radar Screen, dilansir Media Indonesia, Selasa, 7 Desember 2021.

Pasar obligasi di 2022

Untuk pasar obligasi, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income, Ezra Nazula menjelaskan potensi di 2022 menunjukkan saat ini pasar obligasi Indonesia memberikan imbal hasil riil yang relatif tinggi dibandingkan kawasan.

Hal ini membuat pasar obligasi kuat menghadapi perubahan sentimen global di 2022. Selain itu, prospek pasokan yang terkendali dan permintaan domestik yang kuat, ditopang oleh laju pertumbuhan kredit yang masih relatif rendah dan imbal hasil obligasi yang menarik, dapat mendukung pergerakan obligasi Indonesia.

"Faktor sentimen dan fundamental yang lebih kokoh berkontribusi pada stabilitas pergerakan pasar obligasi Indonesia, menjadi sarana diversifikasi portofolio yang baik," jelas Ezra.

Ezra menjelaskan pemerintah dan Bank Indonesia telah berkomitmen untuk melakukan reformasi perpajakan dan melanjutkan skema burden sharing jilid III untuk pendanaan APBN pada 2022. Kondisi ini menjaga ruang dan berkelanjutan fiskal dalam jangka menengah, terutama dalam menurunkan defisit anggaran menuju di bawah tiga persen PDB di 2023.

Di tengah kondisi fiskal yang lebih hati-hati, sinergi fiskal-moneter dinilai sebagai hal yang positif berpotensi mengurangi tekanan terhadap peringkat kredit Indonesia. "Di 2022, imbal hasil obligasi pemerintah dengan durasi 10 tahun untuk 2022 akan berada di level 6-6,25 persen," tutur Ezra.

(AHL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id