Setahun Jokowi-Ma'ruf

    Kondisi Terberat saat Kurs Rupiah Sempat Capai Rp17 Ribu/USD

    Media Indonesia.com - 21 Oktober 2020 13:03 WIB
    Kondisi Terberat saat Kurs Rupiah Sempat Capai Rp17 Ribu/USD
    Foto: dok MI.
    Jakarta: Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengatakan kondisi terberat ekonomi Indonesia sempat dialami sepanjang Maret ketika kurs rupiah sempat mencapai Rp17 ribu per USD.

    "Kondisi fundamen rupiah sebenarnya pada level yang cukup baik karena moncernya neraca dagang dan juga ekspansi moneter yang cukup agresif di Amerika Serikat dan Eropa," ujar Direktur Eksekutif Next Policy ini, dikutip dari Mediaindonesia.com, Rabu, 21 Oktober 2020.

    Akan tetapi, lanjut dia, rupiah lebih banyak ditarik ketakutan pasar. Untungnya, pasar sudah relatif normal jelang April karena kebijakan pemerintah mulai kelihatan arahnya dan pengumuman paket stimulus yang disambut baik.

    Hal ini cukup sejalan dengan penelusuran mesin analisis sentimen publik berbasis artificial intelligence (AI) milik Next Policy. Tercatat, kinerja dari tim ekonomi kabinet Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Ma'ruf Amin banyak mendapat sambutan positif.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan mendapatkan kenaikan jumlah tweet yang sangat tinggi (805 persen) jika dibandingkan dengan posisi awalnya ketika kabinet pertama kali diumumkan.

    "Hal yang kami temukan dan cukup pivotal ialah ketika Sri Mulyani menjadi menteri yang paling awal bersuara mengenai dampak covid-19, bahkan lebih awal jika dibandingkan dengan Terawan sebagai menteri kesehatan," jelasnya.

    Rangkaian kebijakan yang dikeluarkan juga tampak cukup inline untuk tetap menjaga daya ungkit perekonomian di tengah pandemi. Salah satunya ialah memperluas cakupan jaring pengaman sosial serta penambahan dana stimulus hingga hampir Rp700 triliun.

    Tekanan pandemi

    Karena tekanan pandemi, pertumbuhan ekonomi harus rela anjlok. Paling parah tentunya di kuartal kedua, dan sepertinya akan diikuti tren negatif di kuartal ketiga meski tidak separah di kuartal kedua.

    "Nah, masalahnya, paket stimulus masih mandek, perlu didorong lagi. Ini juga yang menyebabkan Pak Jokowi beberapa kali marah-marah di depan sidang kabinet. Perhitungan kami, jika dana tersebut bisa direalisasikan seratus persen di tahun ini, akan menghasilkan dorongan pertumbuhan ekonomi hingga 3,96 persen," tambahnya.

    Jika proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) ditahun ini pertumbuhan ekonomi akan terpuruk di minus 1,5 persen, dengan seratus persen realisasi stimulus, pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini masih bisa positif pada rentang sekitar dua persen.

    Meskipun ada sumbatan dari sisi stimulus fiskal, stimulus nonfiskal ternyata cukup efektif. Salah satunya datang dari kebijakan relaksasi perdagangan dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres), tentang Penataan dan Penyederhanaan Perizinan Impor, yang diberlakukan sejak awal April.

    Hal itu terbukti efektif menahan tren pembalikan PMI yang sempat anjlok dalam di Maret. Imbasnya, PMI berangsur membaik, bahkan mencapai salah satu titik tertingginya di Agustus (50,8) meski harus anjlok lagi di September (47,2) akibat PSBB ketat jilid 2.

    "Namun, jika dibandingkan dengan April (27,5) akibat PSBB jilid 1, industri kita sudah terhitung tahan digedor. Ini buah dari kebijakan relaksasi impor tersebut sehingga industri mudah untuk mendapatkan akses bahan baku dan barang modal. Kinerja industri yang cespleng ini akhirnya turut mendorong surplus neraca dagang Indonesia sepanjang 2020," papar Fithra.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id