comscore

OJK: Kinerja Sektor Jasa Keuangan Masih Terjaga di Tengah Ketidakpastian

Husen Miftahudin - 30 Juni 2022 12:09 WIB
OJK: Kinerja Sektor Jasa Keuangan Masih Terjaga di Tengah Ketidakpastian
Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan indikator perekonomian dan kinerja sektor jasa keuangan dalam kerangka stabilitas sistem keuangan masih terjaga dengan baik, di tengah dinamika ekonomi global dan perkembangan geopolitik yang penuh ketidakpastian.

"Sampai dengan data Mei 2022 kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan terus meningkat untuk terus berkontribusi terhadap berlanjutnya pemulihan ekonomi nasional di tengah meningkatnya vulnerability ekonomi global," ungkap Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo dalam keterangan resminya, dikutip Kamis, 30 Juni 2022.
Dijelaskan lebih lanjut, Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK menyebutkan bahwa fungsi intermediasi perbankan pada Mei 2022 tercatat meningkat, dengan kredit tumbuh 9,03 persen (yoy) didorong peningkatan pada kredit UMKM dan ritel.

Mayoritas sektor utama kredit mencatatkan kenaikan dengan kenaikan terbesar pada sektor manufaktur sebesar 12,4 persen (mtm) dan sektor perdagangan 12,1 persen (mtm). Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Mei 2022 mencatatkan pertumbuhan 9,93 persen (yoy), didorong oleh kenaikan giro.

Di sektor IKNB, penghimpunan premi sektor asuransi meningkat dengan penghimpunan premi Asuransi Jiwa bertambah Rp9,4 triliun, serta Asuransi Umum bertambah Rp13,1 triliun.

Selain itu, fintech peer to peer (P2P) lending pada Mei 2022 mencatatkan pertumbuhan outstanding pembiayaan tumbuh 84,7 persen (yoy), meningkat Rp1,49 triliun, dengan pembiayaan hingga Mei 2022 menjadi Rp40 triliun.

"Sementara itu, piutang pembiayaan tercatat tumbuh 4,5 persen (yoy) pada Mei 2022 Rp379 triliun," paparnya.
 
Baca juga: OJK: Penghimpunan Dana di Pasar Modal Tembus Rp102,9 Triliun


Sementara itu, sektor eksternal juga masih mencatatkan kinerja positif yang ditunjukkan dengan berlanjutnya surplus neraca perdagangan serta cadangan devisa yang terjaga, namun pertumbuhan impor mulai lebih tinggi dari pertumbuhan ekspor seiring kenaikan permintaan domestik.

Di tengah perkembangan tersebut, pasar saham Indonesia terpantau terkoreksi. Terkoreksinya pasar saham Indonesia seiring dengan capital outflow di mayoritas negara berkembang sebagai bentuk risk off investor merespons peningkatan suku bunga acuan The Fed 75 bps pada Juni 2022.

Hingga 24 Juni 2022, IHSG tercatat melemah 1,5 persen (mtd) ke level 7.043 dengan non residen mencatatkan outflow Rp3,59 triliun. Sementara di pasar SBN, non residen mencatatkan outflow Rp12,4 triliun sehingga mendorong rerata yield SBN naik 5,2 bps (mtd) pada seluruh tenor.

"Penghimpunan dana di pasar modal hingga 28 Juni 2022 tercatat Rp102,9 triliun, dengan emiten baru tercatat sebanyak 22 emiten," pungkas Anto.

(HUS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id