Bursa Akomodir Perusahaan Teknologi Catatkan Saham di Pasar Modal

    Annisa ayu artanti - 10 Juni 2021 19:04 WIB
    Bursa Akomodir Perusahaan Teknologi Catatkan Saham di Pasar Modal
    Ilustrasi suasana di Bursa Efek Indonesia - - Foto: MI/ Ramdani



    Jakarta: Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan berupaya adaptif dan mengakomodir kebutuhan perusahaan teknologi hingga unicorn untuk mencatatkan saham di pasar modal.

    "Bursa terus berupaya menjadi bursa yang adaptif terhadap kebutuhan stakeholder-nya, termasuk unicorn di Indonesia, agar dapat memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan mereka untuk bisa growth," kata Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna kepada wartawan, Kamis, 10 Juni 2021.

     



    Nyoman menyatakan salah satu upaya adaptif tersebut dengan menyiapkan Multiple Voting Share (MVS). MVS atau dalam Bahasa Indonesia dipadankan menjadi Saham dengan Hak Suara Multipel (SHSM) yang merupakan jenis lainnya dari saham dengan kelas berbeda.

    "SHSM ini bukanlah hal baru di dunia bisnis maupun bursa efek," ujarnya.

    Nyoman mencontohkan Alphabet yang merupakan holding Google tercatat di NASDAQ memiliki tiga kelas saham berbeda dengan voting power yang berbeda pula.


    Hong Kong Stock Exchange (HKEX) juga telah mengatur tentang SHSM yang dikenal sebagai Weighted Voting Right (WVR) telah membuat Alibaba pulang kampung. Alibaba melakukan IPO pada 18 September 2014 sebesar USD21,8 miliar dan listing di New York Stock Exchange (NYSE) melakukan secondary listing di HKEX senilai USD11 miliar pada 26 Nov 2019.

    "Salah satu latar belakang penerapan SHSM adalah untuk menjaga pengendalian dari para founders yang merupakan key person sebuah perusahaan," jelasnya.

    Dengan tetap menjadi pengendali, walaupun persentase kepemilikannya kecil para founders ini tetap memiliki power untuk mewujudkan visi dan misi perusahaan jangka panjang. Namun detail pengaturan dan penerapan SHSM di setiap market berbeda antara satu dengan yang lainnya.

    "Nah peraturan SHSM di pasar modal Indonesia inilah yang saat ini sedang disusun dan dibahas agar nantinya dapat dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan yang memang diperkenankan menerapkan SHSM dalam struktur permodalannya," jelasnya.

    Terkait pencatatan di papan utama, lanjut Nyoman, bursa melalui Peraturan I-A yang berlaku saat ini mewajibkan calon perusahaan tercatat untuk sudah membukukan laba usaha paling tidak dalam kurun satu tahun terakhir untuk dapat tercatat di Papan Utama.

    Pengaturan ini tidak fit dengan karakteristik perusahaan yang terus berkembang belakangan, termasuk namun tidak terbatas kepada tech companies.

    Melalui peraturan I-A revisian ini nantinya bursa akan memperkenalkan lima alternatif persyaratan sebagai pintu untuk tercatat di papan utama dan papan pengembangan.


    "Dengan demikian, kami berharap peraturan ini lebih akomodatif bagi berbagai jenis industri di Tanah Air," pungkasnya.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id