comscore

Tahun Ini, IHSG Diproyeksikan Tembus Level 7.400-7.600

Annisa ayu artanti - 19 Mei 2022 11:30 WIB
Tahun Ini, IHSG Diproyeksikan Tembus Level 7.400-7.600
IHSG. Foto : Medcom.
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan menguat pada tahun ini, yakni menembus level 7.400-7.600. Pengamat pasar modal yang juga Founder Indonesia Superstocks Community Edhi Pranasidhi mengatakan, prediksi tersebut seiring dengan harapan pertumbuhan ekonomi tahun ini yang diperkirakan di kisaran 5,2 persen.

Menurutnya, GDP Indonesia secara rata-rata setiap tahun sejak 2001 hingga 2020 sekitar lima persen. Adapun pada 2021 terjadi pandemi yang menyebabkan GDP Indonesia hanya tercatat 3,69 persen. Lalu, pada 2022 optimisme kembali tumbuh seiring pandemi yang semakin terkendali. Di kuartal pertama 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,01 persen.
 
Dia menjelaskan, dengan mengacu GDP growth base tersebut, maka IHSG tahun ini dapat dihitung dengan pertumbuhan ekonomi sekitar lima persen dikali investment banking data, yaitu 2,5 kali dari GDP sekitar 13 persen kenaikannya dibandingkan 2021. Pada 2021 lalu, level tertinggi IHSG mencapai 6.581. Dengan kenaikan 13 persen, IHSG sudah berada dikisaran level 7.400.
 
"Namun, jika memperhitungkan earnings per index pada 2022 yang sekitar 440-an atau 430, dikalikan rata-rata price earnings ratio (PER) IHSG tertinggi dalam 10 tahun terakhir yaitu 17. Maka, kita akan mendapatkan IHSG 2022 harusnya antara 7.400-7.600, seperti itu," jelasnya melalui keterangan pers, Kamis, 19 Mei 2022.
Hal itu menurutnya diperkuat juga dengan nilai tukar rupiah yang cenderung stabil di kisaran Rp14.400 per USD. Serta harga komoditas andalan Indonesia seperti batu bara dan nikel yang terjaga positif.

Selain itu, lanjut Edhi, faktor lain yang dapat memperkuat IHSG adalah dana asing yang masuk ke pasar modal dalam negeri. Pasalnya, tingkat inflasi yang menerpa perekonomian global akibat konflik geopolitik Rusia-Ukraina membuat dana asing dalam jumlah besar masuk ke emerging market termasuk pasar modal di Tanah Air.

“Sampai hari ini, 2022, net buy asing itu sekitar Rp63 triliun,” ujarnya.

Di sisi lain, Edhi pun mengingatkan perlunya mewaspadai kenaikan suku bunga oleh The Fed. Langkah otoritas keuangan Amerika Serikat tersebut selalu menciptakan disinflationary di stock market. Artinya, setiap kenaikan bunga acuan The Fed membuat stock market turun.

“Paling lama itu impact-nya adalah sembilan bulan. Jadi yang harus kita catat juga kondisi ini artinya bahwa sentimen market itu lebih berpengaruh dibandingkan apapun. Oleh karena itu rajin-rajinlah meng-update diri terhadap perkembangan ekonomi dunia dan kira-kira apa yang akan terjadi dan memengaruhi investasi Anda,” katanya.

(SAW)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id