Realisasi Restrukturisasi Kredit Capai Rp776,9 Triliun

    Husen Miftahudin - 23 Juli 2020 12:19 WIB
    Realisasi Restrukturisasi Kredit Capai Rp776,9 Triliun
    Ilustrasi restrukturisasi kredit perbankan - - Foto: dok MI
    Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan realisasi restrukturisasi kredit perbankan mencapai Rp776,9 triliun hingga 13 Juli 2020. Keringanan kredit ini diberikan kepada 6,75 juta nasabah dari total 100 bank.

    "Posisi 13 Juli ini yang direstrukturisasi sudah Rp776,9 triliun yaitu dengan UMKM Rp328,6 triliun dan juga non-UMKM Rp448,3 triliun dengan jumlah debitur 6,75 juta," kata Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I OJK Teguh Supangkat dalam webinar Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Jakarta, Kamis, 23 Juli 2020.

    Bila dijabarkan, sebanyak Rp328,6 triliun diberikan kepada 5,43 juta debitur Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sementara sebanyak 1,32 juta debitur lainnya merupakan nasabah non-UMKM dengan total saldo pokok plafon pinjaman perjanjian kredit (baki debet) yang direstrukturisasi senilai Rp448,3 triliun.

    OJK melihat terdapat 102 bank yang berpotensi mengimplementasikan restrukturisasi kredit kepada 15,24 juta debitur dengan baki debet sebanyak Rp1.369 triliun. Potensi tersebut terdiri dari 12,69 juta debitur UMKM dengan baki debet sebesar Rp558,7 triliun. Sedangkan debitur non-UMKM sebanyak 2,55 juta orang dengan baki debet mencapai Rp811,2 triliun.

    Regulator juga mencatat restrukturisasi pinjaman yang telah dilakukan perusahaan pembiayaan (leasing). Per 21 Juli 2020, total outstanding kredit mencapai Rp148,7 triliun dari 4,04 juta nasabah perusahaan pembiayaan.

    Hingga saat ini, seluruh perusahaan leasing yang terdaftar di regulator sudah mengimplementasikan program restrukturisasi pinjaman ini. Total ada 183 perusahaan pembiayaan yang sudah merestrukturisasi pinjaman nasabahnya.

    Adapun total permohonan restrukturisasi yang masuk ke perusahaan pembiayaan mencapai 4,69 juta kontrak. Artinya, sebanyak 372.717 kontrak restrukturisasi di antaranya masih dalam proses persetujuan.

    Teguh menyampaikan restrukturisasi kredit yang sudah diimplementasi mengalami perlambatan pertumbuhan. Meskipun demikian, melandainya realisasi keringanan kredit perlu diantisipasi dan dimitigasi dampaknya ke depan.

    "Jadi dari berapa yang direstrukturisasi ini nantinya perlu diantisipasi berapa dari restrukturisasi ini yang tidak pulih kembali dan berapa yang sudah pulih kembali sehingga perlu kemudian nantinya ke depannya perbankan membentuk CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) ketika nanti stimulusnya ini sudah distimulus dari POJK (Peraturan OJK) 11 ini sudah jatuh tempo," jelasnya.

    Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso juga mengakui adanya perlambatan pertumbuhan terhadap realisasi restrukturisasi kredit. Dia bilang, paling banyak restrukturisasi dilakukan pada April dan Mei 2020.

    "Juni, Juli kayanya sudah melandai, dan kita harapkan bagaimana yang kemarin sudah direstrukturisasi ini betul-betul kita tangani dengan baik sehingga insentif dari pemerintah yang bisa dioptimalkan ini bisa mempercepat recovery (perekonomian nasional)," pungkas Wimboh.


    (Des)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id