Beda Krisis 1998, 2008, dan 2020 di Mata Bankir

    Ade Hapsari Lestarini - 13 Juli 2020 16:56 WIB
    Beda Krisis 1998, 2008, dan 2020 di Mata Bankir
    Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Jahja Setiaadmaja (paling kanan). Foto: Medcom.id.
    Jakarta: Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Jahja Setiaadmaja memaparkan perbedaan kondisi pada 1998, 2008, dan 2020.

    Menurut dia, jika melihat perbandingan krisis 1998, 2008, dan 2020, saat 1998 yang terkena adalah perusahaan besar karena mereka over leverage.

    "Mereka itu pinjam dalam mata uang asing, khususnya USD, besar sekali dan kita tahu rupiah terus meningkat sampai Rp16 ribu per USD dari Rp2.000," kata Jahja, saat virtual editor meeting, Senin, 13 Juli 2020.

    Selanjutnya, pada era itu, bunga rupiah  mencapai 60 persen dan bunga dolar sampai 22-25 persen.

    "Bayangkan pengusaha mana yang bisa survive, cuma pada saat itu UMKM masih bisa survive, karena mereka masih bisa jualan dan pembeli masih ada. Mereka masih bisa buka lapak, toko, dan lain-lain, serta pinjamannya relatif kecil, tidak over leverage, jadi mereka bisa survive, mereka tidak ada pinjaman dalam USD, jadi aman," jelas Jahja.

    Sementara untuk perusahaan besar, saat itu menganggap bahwa pinjaman dalam bentuk dolar lebih murah ketimbang pinjaman dalam bentuk rupiah.

    Selanjutnya pada 2008, adanya gejolak di Amerika Serikat terkait masalah likuiditas oleh beberapa perusahaan besar. Namun dampaknya ke seluruh dunia enggak berat. Sementara di 2020, yang terkena adalah middle low class.

    "Kita lihat, supir taksi, ojek online, kuli bangunan, kuli pelabuhan, mereka yang pencahariannya adalah pembayaran harian. Kalau dulu menjelang Lebaran itu biasanya banyak lembur-lembur, ini enggak ada, produksi boleh dikata setop karena barang menumpuk. Buat apa mereka produksi lagi, ini barang menumpuk, bisa dijual dulu baru bisa produksi," tambah dia.

    Selain itu, kondisi saat ini diperkuat dengan adanya penguncian wilayah (lockdown). Sehingga dana yang beredar pun diutamakan untuk pengadaan sembako. Seperti permintaan terhadap kecap, mi instan, minyak goreng, dan beras.

    "Jadi periode ini, biar mau diberikan kredit ataupun apa enggak bisa menggoyang ekonomi karena sisi permintaan enggak ada, lalu orang pinjam uang untuk apa juga? Padahal biasanya untuk SMI, UMKM mereka itu dapat modal kerja, kredit modal kerja katakan diberi plafon, entah Rp1 miliar atau Rp2 miliar, biasanya mereka pakai hanya 50 persen, sehingga kalau mau bayar gaji, operasional, masih cukup pakai fasilitas yang ada, enggak perlu nambah pinjaman besar-besar. Itulah tercermin kenapa permintaan pinjaman sangat lemah pada kuartal kedua, ini sebagai gambaran umum kenapa hal itu terjadi," pungkasnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id