Produsen Baja Lanjutkan Transformasi Bisnis

    Medcom - 02 Juli 2020 17:54 WIB
    Produsen Baja Lanjutkan Transformasi Bisnis
    Foto: AFP.
    Jakarta: Produsen baja swasta terbesar di Indonesia PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) melakukan sejumlah transformasi pada seluruh proses bisnisnya dari hulu ke hilir.

    "Kami percaya bahwa transformasi merupakan salah satu cara untuk menciptakan kembali gairah bisnis, untuk membangun kebaikan yang lebih besar bagi industri baja di Indonesia. Untuk mempertahankan posisi kami sebagai pemimpin pasar, perusahaan melakukan banyak perubahan agar menjadi produsen baja kelas dunia," kata Presiden Komisaris GGRP Tony Taniwan dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 2 Juli 2020.

    Perseroan yang berdiri pada 1970 di sebuah garasi kecil di Medan ini memiliki pabrik dan fasilitas pendukung seluas 200 hektare (ha) lebih di Cikarang, Bekasi. Perusahaan yang mempekerjakan 5.000 lebih karyawan ini mempunyai kapasitas produksi sebesar 2,8 juta ton baja per tahun, atau sekitar 12 persen dari kapasitas produksi baja nasional.

    Selain untuk memenuhi pasar domestik, produksi baja perseroan diekspor ke sejumlah negara seperti Filipina, Malaysia, dan negara lain. Adapun perusahaan ini didirikan oleh tiga bersaudara yang dipimpin oleh Djamaludin Tanoto. Pada awalnya hanya memasok peralatan bagi sejumlah perkebunan di Sumatra Utara. Berkat visi dari para pendirinya, perusahaan lalu berekspansi ke Pulau Jawa.

    Menurut Tony, salah satu manfaat transformasi adalah perusahaan dikelola secara lebih transparan sehingga lebih mudah dalam pengawasan dan koordinasi. Sebagai contoh, perseroan saat ini sudah menggunakan dashboard untuk memantau kinerja perusahaan di setiap bagian, baik operasional, produksi, penjualan, maupun keuangan.

    "Jadi semua data terkait indikator-indikator kinerja perusahaan tersedia secara real-time, sehingga manajeman selalu mendapatkan informasi terbaru jika perlu mengambil keputusan di rapat kerja mingguan," jelas Tony.

    Tony mengakui bahwa transformasi bisnis tidak selalu mendapat dukungan penuh dari semua stakeholder perusahaan. Menurut dia yang resisten terhadap perubahan selalu ada. Namun ia percaya melalui diskusi yang konstruktif pada akhirnya semua pihak akan mendukung sebab transformasi bisnis adalah keniscayaan jika perusahaan ingin lebih maju lagi ke depan.

    Menurut guru besar ilmu ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Profesor Mudrajad Kuncoro, transformasi bisnis adalah sebuah keharusan bagi perusahaan nasional yang ingin menjadi pemain global. Melalui proses transformasi sebuah perseroan akan lebih kompetitif, responsif dan professional.

    "Ya, wajib hukumnya perusahaan melakukan transformasi, apalagi bagi perusahaan yang sudah cukup lama beroperasi. Tanpa transformasi mereka bisa tergeser oleh perusahaan-perusahaan baru yang biasanya lebih agresif dan didukung teknologi tinggi," kata Mudrajad.

    Mudrajad yang juga Rektor Universitas Trilogi Jakarta ini mengapresiasi perusahaan yang berani melakukan transformasi dengan cara meningkatkan kualitas teknologinya, baik di sisi produksi, keuangan, maupun pemasaran.

    "Proses bisnis itu sangat dinamis dan selalu berhubungan dengan perkembangan teknologi yang terus berubah. Jadi penerapan teknologi dan cara kerja baru menjadi tidak terhindarkan jika perusahaan ingin terus berkembang," jelasnya.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id