BTN Proyeksi Restrukturisasi Kredit hingga Akhir Juni Capai Rp30 Triliun

    Husen Miftahudin - 02 Juli 2020 20:10 WIB
    BTN Proyeksi Restrukturisasi Kredit hingga Akhir Juni Capai Rp30 Triliun
    BTN. Foto: Dok.MI
    Jakarta: PT Bank Tabungan Negara Tbk atau BTN melaporkan implementasi program keringanan kredit (restrukturisasi) debitur terdampak pandemi covid-19 yang dilakukan hingga akhir Mei 2020 mencapai Rp26 triliun. Angka itu diproyeksi bakal meningkat hingga Rp30 triliun pada akhir Juni ini.

    "Semenjak dari krisis pandemi kemarin terutama setelah bulan Maret, kita memang melihat bahwa dari sisi perbankan salah satu yang utama kita lakukan adalah pelaksanaan restrukturisasi. Kalau di BTN ini sampai bulan Mei yang lalu itu kurang lebih sekitar Rp26 triliun, estimasi kita di akhir Juni itu sudah melampaui kurang lebih sekitar Rp30 triliun," kata Direktur Utama BTN Pahala Nugraha Mansury dalam acara diskusi livestream, Kamis, 2 Juli 2020.

    Pahala mengungkapkan, sebanyak 80 persen debitur BTN merupakan nasabah berpendapatan tetap. Meskipun demikian, 60 persen dari portofolio yang dimiliki BTN merupakan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

    "Karena kan salah satu fokus utama dari BTN adalah menyalurkan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) subsidi yang disalurkan kepada masyarakat berpendapatan rendah," ungkap Pahala.

    Sementara itu, ucapnya, bank-bank milik pemerintah lainnya seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BRI, PT Bank Mandiri Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk atau BNI hingga akhir Mei lalu juga telah merestrukturisasi kredit dengan total saldo pokok plafon pinjaman perjanjian kredit (baki debet) sebanyak Rp380 triliun.

    Menurutnya, pelaksanaan restrukturisasi kredit nasabah terdampak covid-19 merupakan upaya industri perbankan dalam meningkatkan kepercayaan diri masyarakat di tengah gejolak perlambatan ekonomi.

    "Kita berharap dengan pelaksanaan restrukturisasi ini tentunya yang kita lakukan sudah memberikan believe (kepercayaan), sudah memberikan bantuan kepada masyarakat yang memang berpengaruh terhadap kondisi pandemi covid-19," urai Pahala.

    Pada kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana menyebutkan nilai restrukturisasi kredit yang sudah dilakukan industri perbankan hingga 22 Juni 2020 mencapai sebanyak Rp695,34 triliun.

    "Restrukturisasi yang sudah dilakukan perbankan itu terdiri dari Rp307,8 triliun untuk sektor UMKM dan Rp387,52 triliun untuk sektor non UMKM. Jadi artinya kebijakan OJK untuk merestrukturisasi para debiturnya itu disambut dengan baik," ucap Heru.

    Heru mengakui dalam perkembangan pada pekan-pekan terakhir Juni 2020, permintaan restrukturisasi di industri perbankan mulai melandai. Artinya, pascapelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) para debitur sudah mulai percaya diri terhadap kembali bergeraknya aktivitas ekonomi dan bisnis.

    "Saya berdiskusi dengan beberapa direktur bank-bank, mereka mengatakan bahwa ada juga yang dulunya meminta restrukturisasi sudah membatalkan permintaannya karena bisa memenuhi kewajibannya. Artinya pelonggaran PSBB itu kan memberikan nilai positif," tutup Heru.

    (DEV)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id