Antisipasi Kredit Macet, 111 Fintech Setor Data Peminjam ke FDC

    Husen Miftahudin - 28 April 2020 12:39 WIB
    Antisipasi Kredit Macet, 111 <i>Fintech</i> Setor Data Peminjam ke FDC
    Fintech Data Center (FDC) sangat berguna bagi perusahaan fintech untuk melihat profil risiko peminjam. Ilustrasi: Medcom.id
    Jakarta: Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mencatat sebanyak 111 penyelenggara peer to peer (P2P) lending (startup teknologi finansial pembiayaan) telah melaporkan profil risiko peminjam ke pusat data fintech lending atau Fintech Data Center (FDC).

    Selain menyampaikan data harian, mereka juga rutin melakukan pengecekan terhadap calon peminjam (borrower) melalui sistem tersebut.

    Ketua Harian AFPI Kuseryansyah mengatakan dengan semakin banyak startup teknologi finansial pembiayaan menyetor data peminjam ke FDC, maka akan membantu mereka untuk melihat rekam jejak dan menilai reputasi calon peminjam. Kondisi ini bisa menurunkan pinjaman bermasalah dan menghindari potensi kredit macet.

    Kehadiran FDC diharapkan dapat meningkatkan manajemen risiko di industri khususnya di masa pandemi virus korona (covid-19) serta mempu mendeteksi sekaligus mencegah calon nasabah yang melakukan peminjaman berlebih di banyak platform fintech P2P lending dalam waktu bersamaan.

    "Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi, khususnya kepada para anggota AFPI yang telah menyampaikan data hariannya," ungkap Kuseryansyah dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id di Jakarta, Selasa, 28 April 2020.

    Kuseryansyah melanjutkan, FDC dikelola secara independen oleh AFPI, khusus untuk kepentingan para penyelenggara fintech lending yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dengan semakin banyak anggota yang bergabung, maka kuantitas data yang dikelola FDC menjadi semakin lengkap menggambarkan transaksi di industri fintech lending.

    Berdasarkan survei AFPI pada 5-6 Apri 2020 kepada para anggotanya, mayoritas menyatakan TKB90 tercatat stabil. Per Februari 2020, OJK mencatat TKB90 yang menjadi tolok ukur industri fintech P2P lending sebesar 96,08 persen, setara dengan tingkat kredit macet atau non performing loan (NPL) sebesar 3,92 persen.

    Ketua Bidang Technical Support AFPI Ronald Andi Kasim menekankan pandemi covid-19 ini FDC dapat membantu penyelenggara fintech lending dengan memberikan berbagai indikator statistik pada level agregat. Berdasarkan data FDC, wabah covid-19 memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penyaluran pinjaman baru melalui fintech lending.

    Saat ini, terjadi penurunan jumlah pengecekan data FDC sebanyak 20 persen dibandingkan sebelum covid-19 mulai. Sejak Januari 2020, total pengecekan data FDC sampai saat ini telah tercatat lebih dari 15 juta kali, dengan rata-rata sekitar 140 ribu pengecekan data setiap harinya.

    "Para penyelenggara fintech lending dapat melakukan tindakan preventif melalui pengecekan FDC, yakni untuk mengetahui sejarah perkreditan calon borrower di masa lalu dan sudah berapa banyak pinjaman yang masih outstanding di berbagai penyelenggara milik si calon borrower tersebut. Kedua, dampak utama tersebut akan sangat membantu menekan kredit macet sehingga portofolio pinjaman melalui fintech lending dapat selalu terjaga kualitasnya," ungkap Ronald.

    Direktur Perizinan, Pengaturan, dan Pengawasan Fintech OJK Hendrikus Passagi mengakui industri membutuhkan model analisis risiko kredit yang inovatif di tengah pandemi covid-19. Hal itu bisa menjadi langkah preventif dalam penyaluran pinjaman yang sehat dan bermanfaat bagi masyarakat secara luas.

    "FDC akan menjadi salah satu perangkat penting bagi para penyelenggara fintech lending untuk meminimalkan praktik predatory lending atau penawaran pinjaman yang menjerumuskan peminjam dalam jeratan utang. OJK akan terus berkoordinasi dengan AFPI terkait pengawasan FDC agar kehadiran infrastruktur pendukung ini dapat semakin meningkatkan layanan fintech lending bagi masyarakat yang belum atau masih sulit mendapat akses pendanaan dari industri keuangan lainnya," ucap Hendrikus.

    Hingga akhir Februari 2020, OJK mencatat penyaluran pinjaman fintech P2P lending senilai Rp95,39 triliun atau meningkat 225,58 persen dari tahun lalu (yoy). Adapun penyelenggara fintech P2P lending yang terdaftar di OJK per Februari 2020 tercatat 161 perusahaan dengan 25 di antaranya status berizin.

    Dari sisi lender (pemberi pinjaman), sudah ada 630.003 entitas atau naik 156,83 persen (yoy). Sementara jumlah borrower (peminjam) sebanyak 22.327.795 entitas atau mengalami kenaikan sebesar 267,17 persen (yoy).

    (DEV)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id