Suntikan Modal Bantu Bank Bangkit dari Dampak Pandemi

    Eko Nordiansyah - 09 Juli 2020 20:47 WIB
    Suntikan Modal Bantu Bank Bangkit dari Dampak Pandemi
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id/Aprilio Akbar
    Jakarta: Industri perbankan memerlukan tambahan suntikan modal agar bisa bertahan menghadapi kenormalan baru (new normal) dan bangkit dari efek negatif pandemi covid-19. Bahkan, komitmen kepemilikan modal perbankan nasional sangat dibutuhkan guna menjaga keberlangsungan kinerja bank di tengah tekanan.

    Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Anung Herlianto mengatakan peran serta komitmen kepemilikan modal menjadi sangat penting. Menurutnya, pemilik modal harus berkomitmen menjaga kesehatan bank, tak peduli dari asing maupun dalam negeri.

    “Kita memonitori dua risiko ini saja risiko likuditias risiko kredit dan bantalan yang cukup memadai dari sisi CAR (Capital Adequacy Ratio). Oleh karena itu, peran kepemilikan modal sangat diperlukan dalam kondisi krisis saat ini,” kata Anung dalam diskusi 'Peran Pemilik dalam Mendukung Kinerja Bank' di Jakarta, Kamis, 9 Juli 2020.

    Saat ini risiko kredit bank sampai dengan April 2020 meningkat ke 2,89 persen secara gross. Di sisi lain loan to deposit ratio (LDR) menurun ke 91,55 persen. Sementara itu Capital Adequacy Ratio (CAR) secara industri sejauh ini sudah menurun dari 23 persen ke level 21 persen hingga Maret 2020.

    “Menghadapi tekanan kualitas kredit, bank akan melakukan penguatan internal untuk menjaga kualitas kredit serta melakukan percepatan penyelesaian kredit bermasalah," kata Direktur Utama Bank Bukopin Rivan A. Purwantono.

    Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk, Ryan Kiryanto menambahkan, suntikan modal sangat penting buat bank di tengah kondisi pandemi yang belum diketahui ujungnya hingga kini. Dengan didukung modal yang cukup, bank dinilainya bisa lebih kuat lagi dalam mendukung operasionalnya terlebih di tengah kondisi pandemi covid-19 seperti saat ini.

    "Perbankan harus 'lari maraton' dalam jangka panjang ini untuk bertahan. Sampai kita benar-benar tahu kapan produksi vaksin dan pendistribusiannya. Karena likuiditas itu diibaratkan seperti darah. Di situ ada vitamin, nutrisi dan sebagainya. Jika bank likuiditasnya kering, bisa bahaya," ungkapnya.

    Chairman Infobank Institute, Eko B Supriyanto menyebut, perbankan butuh tambahan modal besar demi menjaga posisi likuiditas tetap terjaga, ditengah kondisi pandemi saat ini. Tidak peduli, jika kepemilikan saham pihak asing di suatu bank harus bertambah, asalkan kinerja bank bisa terangkat dan kembali kencang dengan setoran modal.

    "Setor modal bagi bank adalah harus. Kita harus menghargai pemilik bank yang rajin setor modal, selain memperkuat bank, tapi sekaligus menunjukan komitmen dalam membesarkan bank, karena bank itu bisnis jangka panjang yang padat modal,” jelas dia.

    Saat ini total ada 42 bank umum di Indonesia yang dalam status kepemilikan asing. Dari jumlah tersebut, bank dalam kepemilikan asing yang asetnya di atas Rp100 triliun di antaranya adalah Bank Danamon, CIMB Niaga, Maybank Indonesia, OCBC NISP, UOB Indonesia, Permatabank, dan MUFG Bank

    "Porsi kepemilikan tidak menjadi masalah, yang penting kontribusinya kepada perekonomian Indonesia, menjalankan fungsi intermediasi agar dunia usaha berjalan, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja dan pada akhirnya pajak meningkat,” pungkas dia.

    (DEV)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id