Sambut Pemulihan Ekonomi, Darmin: Kebijakan Restrukturisasi Perlu Diperpanjang

    Angga Bratadharma - 16 Juli 2020 19:23 WIB
    Sambut Pemulihan Ekonomi, Darmin: Kebijakan Restrukturisasi Perlu Diperpanjang
    Darmin Nasution. FOTO: MI/PANCA SYURKANI

    Jakarta: Kebijakan yang diambil Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait restrukturisasi dinilai positif bagi industri jasa keuangan di Indonesia bertahan dari serangan covid-19. Namun demikian, kebijakan tersebut dirasa perlu diperpanjang jika dikaitkan masuk fase pemulihan ekonomi atau ketika pandemi virus mematikan itu usai.

    Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengatakan krisis yang terjadi akibat covid-19 sekarang ini berbeda dibandingkan dengan krisis yang datang dari luar di tahun-tahun sebelumnya atau tepatnya pada 2008. Pasalnya, pada 2008, krisis yang dimulai dari Amerika Serikat (AS) masuk ke Tanah Air dengan menggerogoti bank yang sakit.

    “Krisis moneter (yang terjadi di 2008) bergerak pada sektor keuangan, tetapi hanya menggerogoti bank yang sakit. Bank yang sehat tidak. Masalahnya dengan pandemi covid-19 ini bukan hanya menggerogoti bank yang sakit tapi melumpuhkan kegiatan bank (di Indonesia),” kata Darmin, dalam sebuah Webinar Indonesia Menjaga Resiliensi Industri Finansial, Kamis, 16 Juli 2020.

    Hal itu, lanjutnya, yang membuat pemerintah merespons dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan/atau Dalam Rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan (Perppu 1/2020).

    Tidak hanya itu, regulator jasa keuangan juga merespons dengan mengeluarkan POJK terkait fasilitas restrukturisasi pinjaman atau kredit. Darmin berpandangan kebijakan ini cukup berguna agar persoalan krisis covid-19 ini tidak menghantam terlalu keras industri keuangan terutama industri perbankan di Indonesia. Meski demikian, Darmin menilai, persoalan covid-19 ini tidak hanya selesai hanya dengan program restrukturisasi yang waktunya sampai Maret 2021.

    “Apakah selesai? Tidak. Permasalahan akan terus berjalan karena pada waktu (pandemi covid-19) ini nanti selesai, kita menjalani new normal, kita akan menjalani pemulihan ekonomi yang justru akan diperlukan lagi dana oleh sektor riil. Petugas bank dan perusahaan sektor riil itu hanya menghitung kebutuhan pokoknya. Cukup lah untuk menghadapi puncak dari covid-19. Nanti pada waktu pemulihan ekonomi maka pasti diperlukan lagi (fasilitas restrukturisasi),” imbuhnya.

    Menurutnya perpanjangan kebijakan restrukturisasi penting guna memaksimalkan pemulihan ekonomi, baik untuk industri jasa keuangan maupun sektor riil di Tanah Air. Namun demikian, dirinya mengaku tidak kaget jika nanti kebijakan restrukturisasi ini diperpanjang lantaran sudah banyak pihak menyebut kebijakan restrukturisasi tidak cukup hanya sampai Maret 2021.

    “Saya tidak surpise kalau nanti banyak pihak yang mengatakan restrukturisasi kredit itu tidak cukup hanya sampai Maret tahun depan. Pasti diperlukan lebih dari itu dan seterusnya,” tuturnya, dalam webinar bertajuk ‘Peluang dan Tantangan Industri Keuangan dengan Menakar Ketahanan dan Kekuatan di Babak Kenormalan Baru’.

    Di sisi lain, ia mengatakan, sangat berisiko membiarkan bank sakit tetap hidup sekarang ini, terutama ketika pandemi covid-19. Dirinya tidak menampik bahwa ada bank sakit yang sedang diawasi OJK. Namun, hal itu terjadi bukan lantaran lemahnya Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) di Indonesia melainkan belum maksimalnya tahap pelaksanaan.

    “Saya kira itu adalah sesuatu yang sangat berisiko membiarkan bank tetap hidup padahal dia sakit. Bank sakit itu seperti orang kalau berdiri hampir kelelep sampai di bibir. Tinggal bagaimana guncangan kecil maka tenggelam dia,” tuturnya.

    Namun, ia tidak menampik, jika industri perbankan Indonesia diukur dari sisi struktur permodalan atau Capital Adequacy Ratio (CAR), kredit macet atau Non Performing Loan (NPL), dan pertumbuhan kredit maka ditemukan masih positif. Karenanya, Darmin menyebut, masyarakat tidak perlu kaget jika OJK menyebut industri perbankan Tanah Air masih kuat dan resiliensi.

    Akan tetapi, ia menjelaskan, indikator-indikator tersebut adalah indiator agregatif yang artinya tidak menggambarkan situasi dan kondisi di tiap-tiap bank. Dengan kata lain bersifat dinamik dan bukan statistik. Dirinya membandingkan ketika dirinya masih menjabat sebagai Gubernur BI bahwa kala itu tidak ada bank yang sakit sampai ia digantikan oleh Agus DW Martowardojo sebagai orang nomor satu di BI.

    “Setelah saya selesai di Bank Indonesia tidak ada satu bank pun yang sakit. Semua sehat. Kalau kita bisa membangun situasi seperti itu di dalam jaring pengaman sosial yang juga bagus maka tidak perlu khawatir bahwa krisis-krisis ini di Indonesia akan menghantam,” tukasnya, dalam webinar tersebut sekaligus acara 20 Pilar Finansial Indonesia Award 2020.

    Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, harus ada strategi yang dijalankan industri perbankan Indonesia di new normal sekarang ini. Pertama, restrukturisasi kredit dengan tujuan menjaga kualitas aset. Kedua, pertumbuhan kredit harus disalurkan secara selektif ke sektor-sektor yang tidak terdampak covid-19 dengan mengedepankan asas kehati-hatian yang tujuannya pertumbuhan kredit dan laba.

    Ketiga, efisiensi dengan meningkatkan produktivitas kerja pegawai namun tetap memerhatikan protokol kesehatan covid-19. Keempat, pemanfaatan teknologi di mana terjadinya pandemi covid-19 memunculkan hikmah positif yakni penggunaan teknologi digital semakin gencar dilakukan oleh industri perbankan Indonesia.

    “Teknologi digital itu semakin cepat dijalankan perbankan dari yang sebelumnya. Kalau kita lihat ke depan, harusnya perbankan di Indonesia itu sangat siap dengan penggunaan teknologi atau bagaimana mendorong bisnis dengan mengoptimalkan teknologi,” pungkasnya.





    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id