7 Cara Kelola Pengeluaran Bulanan saat Pandemi

    Angga Bratadharma - 17 Oktober 2020 12:30 WIB
    7 Cara Kelola Pengeluaran Bulanan saat Pandemi
    Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
    Jakarta: Riset Lifepal menunjukkan penurunan aktivitas konsumsi di Indonesia memicu terjadi penurunan inflasi hingga berujung pada deflasi berturut-turut selama tiga bulan di 2020. Di saat yang sama terjadi peningkatan jumlah simpanan masyarakat dalam bentuk tabungan, deposito berjangka, deposito on call, dan sertifikat deposito.

    Tak tanggung-tanggung, jumlah simpanan masyarakat di bank umum pada Agustus 2020 mencapai di atas Rp6.500 triliun atau naik 2,74 persen dari Juli, lebih tinggi dari persentase kenaikan rata-rata bulanan sejak awal tahun ini yang hanya 0,98 persen.

    Di saat bersamaan, menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) di kuartal II-2020, laju pertumbuhan pengeluaran dari konsumsi rumah tangga secara tahunan adalah minus 5,51 persen. Hal itu pula yang berkontribusi terhadap perlambatan pertumbuhan PDB di kuartal II-2020.

    Data-data tersebut menunjukkan di masa pandemi masyarakat lebih memilih untuk menyimpan uang lebih banyak dan mengurangi konsumsi. Rajin menabung tentunya baik bagi masa depan, namun mungkin kurang tepat jika akhirnya terlalu takut mengeluarkan uang karena pandemi ini, terutama jika persentase bunga tabungan atau deposito di bank pilihan berkurang.

    Mengutip Lifepal, Sabtu, 17 Oktober 2020, berikut tips untuk mengatur pola konsumsi dan pengeluaran di masa pandemi guna menjaga kondisi keuangan tetap sehat. Pertama, atur pengeluaran tidak tetap dengan metode rata-rata. Dalam pengaturan arus kas bulanan, maka pengeluaran dibedakan menjadi dua jenis yaitu pengeluaran tetap dan variabel (tidak tetap).

    Pengeluaran tidak tetap bisa berupa biaya bahan bakar kendaraan setiap hari atau ongkos transportasi, biaya belanja bahan makanan, biaya listrik, dan lainnya. Pengeluaran tetap tentu lebih mudah dicatat dan ditetapkan besarannya ketimbang yang tidak tetap. Sementara itu, pengeluaran variabel tidak.

    Kedua, prioritaskan yang wajib dan perlu. Prioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan yang sifatnya wajib dipenuhi atau dibayar terlebih dulu. Apa saja kebutuhan itu? Yakni kebutuhan untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok seperti makan dan minum, hingga menabung biaya pendidikan anak.

    Ketiga, lunasi utang konsumtif berbunga besar, dan jangan tambah lagi. Jika seseorang memiliki utang jangka pendek yang bersifat konsumtif dan berbunga besar maka lunasi selagi masih memiliki cadangan kas yang cukup. Keempat, simpan dana darurat di tempat yang semestinya.

    Kelima, pikir dua kali untuk cari untung dari asuransi. Keenam, tetap sisihkan uang untuk investasi, tapi sesuai dengan tujuan. Ketujuh, untuk hal yang bersifat keinginan maka 10 persen dari pemasukan sudah cukup.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id