Menimbang Harga Saham ABM Investama di Masa Pandemi Covid-19

    MetroTV - 29 Juli 2021 18:26 WIB
    Menimbang Harga Saham ABM Investama di Masa Pandemi Covid-19
    Foto: Grafis Medcom.id



    Jakarta: Saham perusahaan yang bergerak di sektor komoditas meraup cuan dari naiknya harga komoditas di pasar global, khususnya batu bara. Namun demikian, investor diminta tetap waspada terhadap risiko fundamental emiten dan tingkat likuiditas sahamnya.

    Harga batu bara sudah melonjak 80 persen sejak awal tahun, hingga menembus USD154,5 per ton. Angka ini mencapai rekor tertinggi dalam 13 tahun terakhir, hingga ikut memompa harga saham sektor ini. Salah satunya yakni saham PT ABM Investama Tbk (ABMM).

     



    Meskipun rating emiten ini telah diturunkan lembaga pemeringkat Moody's dari stabil menjadi negatif pada Mei 2020 dan peringkat obligasi ABMM pada level B-1 atau tidak layak investasi pada Juli 2021.

    Menurut analis teknikal Panin Sekuritas William Hartanto, ABMM adalah saham yang tidak likuid alias sulit dijual jika investor membeli saham ini dalam jumlah besar. Oleh karena itu, dia menilai kenaikan harganya lebih karena euforia atau sesaat saja.

    "Kalau lihat dari perdagangan saham ini umumnya, bukan dasarnya saham dengan likuiditas tinggi. Dia baru mulai naik belakangan ini. Jadi secara tingkat risiko agak lebih tinggi dibanding saham-saham batu bara yang lainnya. Tetapi secara teknikal jika trennya memang jelas menguat, memungkinkan untuk diikuti," ujarnya, dikutip dari Metro TV, Kamis, 29 Juli 2021.

    Kepala Riset Infovesta Wawan Hendrayana menegaskan, rating B-1 atau tidak layak investasi yang diberikan Moody's pada obligasi ABM Investama karena risiko meningkat. Terutama terkait kemampuan korporasi membayar utang dan kepastian aset yang akan dijaminkan jika emiten kesulitan membayar.

    "Sebetulnya rating B itu di bawah investment grade (BBB). Jadi ABMM juga, meskipun kayak junk bond, tapi kalau dia punya anak usaha yang menguntungkan, investor mungkin masih berani untuk kasih pinjaman. Toh kalaupun default atau enggak bisa bayar, nanti bisa dikonversi dari aset yang lain," jelasnya.

    Sementara analis saham Hans Kwee menilai, penerbitan obligasi di tengah ketidakpastian saat ini akibat pandemi covid-19, seperti yang dilakukan perseroan, sangat berisiko. Apalagi nilai utangnya sudah mencapai 78 persen dari asetnya.

    "Pada posisi perusahaan tadi (ABMM), kita lihat posisinya 78 persen asetnya dibiayai utang. Artinya ini di pertengahan jalan ya. Jadi manajemen harus hati-hati mengelola perusahaan. Artinya kalau utangnya terlalu besar pasti akan sulit dibayar. Tapi kalau di posisi ini (78 persen) agak mix di tengah. Kalau dikelola dengan hati-hati, perusahaan bisa survive dan berjalan dengan baik. Tetapi kalau menghadapi kendala-kendala, mungkin akan kesulitan membayar utang," paparnya.

    ABM Investama berencana menerbitkan surat utang dalam dolar AS senilai USD400 juta di pasar Singapura. Dana obligasi tersebut rencananya akan digunakan untuk menebus atau refinancing utang senior senilai USD350 juta yang jatuh tempo pada Agustus 2022.

    Lembaga pemeringkat Moody's Investors Service menetapkan peringkat B-1 untuk surat utang yang akan diterbitkan itu.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id