Dana Asing Bakal Mengalir Deras di 2021

    Husen Miftahudin - 21 Januari 2021 20:32 WIB
    Dana Asing Bakal Mengalir Deras di 2021
    Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani



    Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik kembali berlanjut. Ini tercermin dari investasi portofolio yang mencatat net inflow sebesar USD2,1 miliar pada kuartal IV-2020.

    "Angka tersebut berbalik arah dari kuartal sebelumnya yang mencatat net outflow sebesar USD1,7 miliar," ujar Perry dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan secara virtual, Kamis, 21 Januari 2021.






    Memasuki awal 2021, lanjutnya, aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik terus berlanjut dan mencapai USD5,1 miliar per 19 Januari 2021, termasuk penerbitan obligasi global oleh pemerintah.

    Menurut Perry, dana-dana asing akan terus membanjiri pasar keuangan domestik lantaran telah dilantiknya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) ke-46. Sebab langkah Biden terkait vaksinasi, percepatan pemulihan ekonomi nasional,serta kenaikan ekspansi fiskal oleh Pemerintah AS membuat kondisi pasar keuangan global semakin positif.

    Selain itu, lanjut Perry, Biden juga menegaskan bahwa US yield treasury akan mengalami penurunan dan kondisi pasar keuangan global akan semakin baik. Hal ini sejalan dengan perkiraan Bank Indonesia terhadap perbaikan ekonomi global.

    "Kami merasa optimistis kondisi pasar keuangan global akan terus kondusif dan aliran modal asing ke negara berkembang akan terus meningkat, dan Indonesia kita patut bersyukur karena menjadi salah satu tujuan utama investasi portofolio dan kami perkirakan mencapai USD19,1 miliar," paparnya.

    Banjirnya aliran dana asing ke Indonesia itu membuat nilai tukar rupiah menguat. Nilai tukar rupiah pada 20 Januari 2021 menguat 0,77 persen secara rerata dan 0,14 persen secara point to point dibandingkan dengan level Desember 2020.

    Bank Indonesia memandang penguatan nilai tukar rupiah berpotensi berlanjut seiring levelnya yang secara fundamental masih undervalued. Hal ini didukung oleh defisit transaksi berjalan yang rendah, inflasi yang terjaga, daya tarik aset keuangan domestik yang tinggi, premi risiko Indonesia yang menurun, serta likuiditas global yang besar.

    "Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar, melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar," tutup Perry.
     

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id