Kredit Perbankan 2020 Anjlok hingga Minus 2,41%

    Husen Miftahudin - 15 Januari 2021 21:08 WIB
    Kredit Perbankan 2020 Anjlok hingga Minus 2,41%
    Ilustrasi pertumbuhan kredit perbankan anjlok - - Foto: Medcom
    Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyampaikan kredit perbankan sepanjang 2020 mengalami kontraksi hingga minus 2,41 persen (yoy). Angka ini anjlok cukup dalam jika dibandingkan kredit perbankan pada tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,08 persen (yoy).

    "Ini tidak lain karena perusahaan korporasi masih belum beroperasi secara normal seperti sebelum covid-19. Sehingga modal kerja yang dipinjam dari perbankan rata-rata diturunkan," ungkap Wimboh dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2021 secara virtual, Jumat, 15 Januari 2021.


    Pada sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), lanjut Wimboh, berbagai kebijakan stimulus yang diberikan OJK dan pemerintah berdampak pada stabilnya pertumbuhan kredit UMKM dan mulai tumbuh positif secara bulanan (mtm) pada beberapa bulan terakhir.

    Meskipun demikian, dampak pelunasan kredit oleh debitur sangat berpengaruh besar pada penurunan pertumbuhan kredit di segmen korporasi dengan kontraksi hingga minus 3,4 persen (yoy).

    "Namun demikian ini tidak apa-apa. Ini mudah-mudahan temporary sehingga (pada saat) nanti demand pulih, mereka akan beroperasi pulih kembali 100 persen. Ini sejalan dengan LDR (Loan to Deposit Ratio) yang cukup rendah 82,24 persen meskipun suku bunga sudah berangsur-angsur turun hingga single digit," paparnya.


    Wimboh memahami anjloknya kredit perbankan yang terjadi di sepanjang 2020. Hal ini diakibatkan oleh meluasnya dampak pandemi covid-19 yang mengguncang sendi-sendi perekonomian nasional, termasuk pasar keuangan.

    Namun begitu, Wimboh juga merasa bangga karena kredit pada beberapa kelompok bank justru mengalami pertumbuhan positif di tengah pandemi. Di antaranya Bank BUMN yang tumbuh 0,63 persen, Bank Pembangunan Daerah (BPD) tumbuh 5,22 persen, dan Bank Syariah yang tumbuh hingga 9,50 persen.

    "Ini tidak lain bahwa pertumbuhan ini didukung oleh pertumbuhan-pertumbuhan sektor mikro dan UMKM yang ini kebanyakan ada di daerah-daerah. Untuk itu kami menyampaikan terima kasih bahwa stimulus, penempatan dana pemerintah di Himbara dan beberapa bank, ini telah disalurkan ke dalam UMKM yang jumlahnya Rp323,8 triliun atau leveragenya sudah 4,8 kali," jelas Wimboh.

    Di sisi lain, kebijakan restrukturisasi kredit perbankan yang telah mencapai Rp971 triliun atau 18 persen dari total kredit juga berhasil menahan laju kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) pada level 3,06 persen. Hal ini didukung permodalan bank yang kuat sebesar sebesar 23,78 persen.

    Sejalan dengan itu, likuiditas perbankan masih cukup memadai (ample) ditandai oleh alat likuid perbankan yang terus meningkat mencapai sebesar Rp2.111 triliun. Angka ini melonjak tajam bila dibandingkan tahun lalu yang hanya sebesar Rp1.251 triliun.

    "Dana Pihak Ketiga tumbuh sebesar 11,11 persen (yoy.) Alat likuid per non-core deposit 146,72 persen dan liquidity coverage ratio 262,78 persen atau lebih tinggi dari threshold-nya," pungkas Wimboh. 


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id