Kebijakan Moneter BI Perlu Dipertahankan hingga Akhir 2021

    Husen Miftahudin - 19 Februari 2021 16:36 WIB
    Kebijakan Moneter BI Perlu Dipertahankan hingga Akhir 2021
    Ilustrasi Bank Indonesia - - Foto: dok MI



    Jakarta: Ekonom Bank DBS Radhika Rao mengapresiasi langkah Bank Indonesia (BI) yang melonggarkan sejumlah kebijakan moneter demi mendorong pemulihan ekonomi nasional. Padahal ruang pemotongan suku bunga kebijakan lebih lanjut dipandang masih terbatas.

    "Kami berharap kebijakan yang sudah ada saat ini akan dipertahankan sampai akhir tahun, dengan memperhatikan kurva pandemi," ujar Radhika dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Jumat, 19 Februari 2021.




    Adapun dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI periode Februari 2021, bank sentral mengeluarkan sejumlah kebijakan moneternya. Paling utamanya soal suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate yang dipangkas 25 basis poin (bps) ke level 3,50 persen.

    Dengan penurunan tersebut, maka suku bunga acuan saat ini sudah turun sebanyak 150 bps sejak awal tahun 2020. Level suku bunga kebijakan bank sentral ini menjadi yang terendah sejak BI menggunakan reverse repo rate tujuh hari.

    Selain itu, Bank Indonesia juga menempuh langkah kebijakan lainnya. Salah satunya membebaskan uang muka atau down payment (DP) kredit pembiayaan kendaraan bermotor dan properti. Tujuannya, agar pertumbuhan kredit meningkat secara signifikan.

    FX Strategist Bank DBS Philip Wee menambahkan kecenderungan BI mendukung pertumbuhan kemungkinan akan dilakukan melalui langkah-langkah non-suku bunga seperti ketentuan likuiditas, kebijakan makroprudensial, dorongan untuk menurunkan suku bunga pinjaman, dan peran aktif di pasar obligasi seperti tahun lalu.

    Terakhir, BI telah membeli obligasi senilai Rp40,8 triliun di pasar perdana pada pertengahan Februari 2021. Sebanyak 45 persen di antaranya dilakukan bank sentral melalui pembelian langsung.


    "Dengan kebutuhan pembiayaan 2021 yang dipatok lebih dari Rp1.000 triliun, peran aktif dari pemain domestik akan diperlukan untuk memastikan kelancaran program pinjaman," paparnya.

    Meskipun ada bantalan suku bunga riil yang cukup, Philip meminta Bank Indonesia untuk memperhatikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (US Treasury) yang telah meningkat tajam seiring dengan penguatan dolar AS.

    "Sejak posisi terendah awal Januari 2021, imbal hasil (yield Surat Berharga Negara/SBN) 10 tahun dan dua tahun (secara umum) meningkat di kisaran 60 bps hingga 80 bps," pungkas dia.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id