comscore

Langkah Hawkish The Fed Dikhawatirkan Tekan Stabilitas Rupiah

Husen Miftahudin - 25 Januari 2022 20:25 WIB
Langkah <i>Hawkish</i> The Fed Dikhawatirkan Tekan Stabilitas Rupiah
Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani
Jakarta: Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Solikin M. Juhro melihat langkah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, akan lebih hawkish atau ketat pada tahun ini dan 2023. Hal ini merupakan imbas dari kenaikan inflasi di tengah tidak seimbangnya permintaan dan pasokan.

"Dengan tekanan yang cukup tinggi dan persistence ini, memang respons dari The Fed diperkirakan akan lebih hawkish. Kalau kita lihat dalam beberapa bacaan, FFR (Fed Funds Rate) ini akan naik sekitar empat kali di dalam 2022 dan tiga kali di 2023," ujar Solikin dalam Economic Outlook yang diselenggarakan Hipmi, Selasa, 25 Januari 2022.
Solikin melanjutkan kondisi tersebut akan berpengaruh besar terhadap pasar keuangan domestik, meskipun likuiditas pada industri perbankan sangat mencukupi (ample). Walaupun di tengah perbaikan intermediasi keuangan, pergerakan likuiditas cenderung moderat.

Dalam kondisi likuiditas yang mencukupi tersebut, stabilitas eksternal menghadapi tekanan lantaran adanya kenaikan bunga acuan dari The Fed. Langkah kebijakan moneter yang dilakukan Bank Sentral AS tersebut berdampak pada tertahannya aliran modal masuk (capital inflows) ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga menyebabkan stabilitas nilai tukar rupiah terganggu.

"Juga kita melihat perkembangan yield SBN (imbal hasil Surat Berharga Negara) akan terpengaruh, dan ini tentunya akan menjadi tantangan di dalam pengendalian nilai tukar (rupiah)," akunya.

Di sisi lain, Bank Indonesia juga memprakirakan neraca perdagangan (net ekspor) RI di tahun ini akan mengalami penurunan jika dibandingkan dengan raihan di 2021. Hal tersebut akibat kenaikan impor yang akan lebih tinggi daripada sisi ekspornya lantaran perekonomian yang sudah tumbuh.

"CAD (Current Account Deficit/defisit transaksi berjalan) juga akan sedikit berpengaruh. Sementara tekanan inflasi relatif terkendali di tengah-tengah kebijakan perpajakan, antara lain melalui penerapan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) yang ini tentunya merupakan bagian dari upaya konsolidasi fiskal," terang dia.

Dengan kondisi tersebut, sinergi bauran kebijakan baik dalam konteks Bank Indonesia maupun juga dengan pemerintah akan terus diperkuat dalam mendukung pemulihan ekonomi domestik, dengan tetap menjaga stabilitas.

"Sinkronisasi kebijakan moneter dan fiskal ini kalau menurut empirical assessment (penilaian empiris) kita ini juga akan semakin bagus dan semakin kuat dalam beberapa waktu terakhir ini, karena memang kita memiliki cara pandang yang sama, memahami isu yang sama, dan merespons dengan cara yang saling sinergi," pungkas Solikin.
 

(DEV)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id