Kurs Rupiah Masih Berpeluang Menguat

    Husen Miftahudin - 22 September 2020 08:52 WIB
    Kurs Rupiah Masih Berpeluang Menguat
    Foto: Medcom.id/Eko Nordiansyah.
    Jakarta: Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini masih terbuka peluangnya di jalur hijau.

    "Dalam perdagangan Selasa ada kemungkinan rupiah akan dibuka menguat 10-40 poin di level Rp14.670 per USD sampai Rp14.730 per USD," ungkap Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangan yang diterima Medcom.id, Selasa, 22 September 2020.

    Mengutip data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Senin, 21 September 2020, nilai tukar rupiah menguat ke posisi Rp14.700 per USD dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya di level Rp14.735 per USD.

    Mata uang Garuda tersebut menguat 35 poin atau setara 0,24 persen. Rentang gerak harian rupiah berada di level Rp14.670 per USD sampai Rp15.199 per USD.

    Menukil data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp14.690 per USD. Rupiah menguat sebanyak 75 poin atau setara 0,51 persen, dari Rp14.765 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

    Berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan di level Rp14.723 per USD atau menguat sebanyak 45 poin dari nilai tukar rupiah pada perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp14.768 per USD.

    Sebelumnya dia mengatakan pelaku pasar keuangan merespons positif langkah PT Bio Farma (Persero) yang mulai memproduksi 4,2 juta tablet Oseltamivir. Kondisi ini membuat kurs rupiah terhadap dolar AS menguat.

    Ibrahim mengatakan Oseltamivir digunakan untuk terapi penyembuhan pasien covid-19 di dalam negeri. Obat-obat ini nantinya didistribusikan ke rumah sakit rujukan covid-19 dan tidak dijual secara bebas.

    "Pasar optimistis dengan tablet Oseltamivir bisa menekan dan membantu pasien covid-19 kembali sembuh dan pasien yang terkena virus bisa berkurang," ujar Ibrahim.

    Menurutnya, kondisi tersebut mendorong arus modal asing kembali masuk ke pasar keuangan dalam negeri. Hal ini juga didorong oleh fundamental ekonomi Indonesia yang masih cukup kuat.

    "Indonesia secara fundamental masih cukup kuat ekonominya, dan ini bisa dilihat dari transaksi valas, obligasi, dan SUN (Surat Utang Negara) di perdagangan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward)," paparnya.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id