Gempar di Bursa Saham

    Fetry Wuryasti - 01 Desember 2020 08:52 WIB
    Gempar di Bursa Saham
    Ilustrasi. FOTO: Dok MI/PANCA SYURKANI
    Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir November ditutup kontraksi 170,92 poin atau minus 2,96 persen ke level 5.612,41. Pelemahan dipicu sentimen negatif akibat meningkatnya penyebaran covid-19 di Indonesia serta adanya rebalancing saham pada MSCI Global Standard Index.

    Dalam rebalancing MSCI Indonesia Index dua emiten terdepak keluar, yakni PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL). Namun, EXCL langsung masuk ke MSCI Global Small Cap Index. Pelaku pasar sebenarnya sudah memperhitungkan akan adanya peningkatan kasus covid-19 sesuai fenomena global.

    Namun yang dikhawatirkan ialah peningkatan kasus covid-19 ini akan membuat pemerintah memberlakukan lagi kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara ketat. Kekhawatiran akan penerapan PSBB ketat bertambah besar ketika di sebuah media daring muncul berita "Gubernur DKI Tarik Rem Darurat, PSBB Berlaku Lagi".

    Hal ini menjadikan penurunan indeks semakin tajam sehingga mencapai level 5.563 atau turun 220 poin pada pukul 14.05.

    "Ada MSCI rebalancing buat 1 Desember, yang hari ini eksekusi. Kemudian, diperparah beredar berita hoaks tentang PSBB yang diperketat kembali di DKI," kata Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma, dikutip dari Mediaindonesia.com, Selasa, 1 Desember 2020.

    Analis PT Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan investor dilanda panic selling. Apalagi, investor asing juga terus secara masif melakukan penjualan. "Di sisi lain, market juga khawatir terkait dengan penerapan PSBB di Tanah Air," kata Nafan.

    Setelah situs berita itu mengklarifikasi tentang berita yang beredar sebagai hoaks, tekanan terhadap IHSG berkurang. IHSG bisa naik 50 poin dari posisi terendahnya dan ditutup pada level 5.612,14. Di sisi lain, nilai transaksi bursa kemarin sangat besar hingga menembus Rp32 triliun.

    Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Laksono W Widodo mengatakan nilai transaksi harian saham di pasar reguler ini tertinggi sepanjang sejarah transaksi di BEI.

    "Senilai Rp32,01 triliun dengan total frekuensi 1.685.213 kali. BEI pernah mencatat nilai transaksi harian saham di pasar reguler tertinggi sebelumnya pada 25 November 2020, yaitu senilai Rp16,48 triliun dengan total frekuensi 1.412.553 kali," kata Laksono.

    Sedangkan nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta kemarin sore ditutup melemah seiring kenaikan jumlah kasus covid-19. Rupiah ditutup melemah 30 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp14.120 per USD jika dibandingkan dengan hari sebelumnya Rp14.090 per USD.

    "Memang sentimen negatif muncul dari memburuknya pandemi di banyak negara," kata analis pasar uang Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto.

    Survei oleh Komisi Eropa menunjukkan sentimen ekonomi Zona Euro turun pada November, yang pertama kalinya dalam tujuh bulan terakhir akibat gelombang kedua covid-19 yang melanda Benua Eropa.  
     

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id