Catat! Ini 6 Cara Agar Tidak Jadi 'Budak Cicilan'

    Husen Miftahudin - 06 Maret 2021 17:00 WIB
    Catat! Ini 6 Cara Agar Tidak Jadi 'Budak Cicilan'
    Ilustrasi tips melakukan pinjaman - - Foto: Medcom



    Jakarta: Mayoritas perencana keuangan tidak melarang seseorang untuk berutang asalkan masih dalam batas yang wajar, yakni maksimal 30 persen dari pemasukan. Namun seringkali orang yang berutang lupa diri dan membuat utangnya menumpuk hingga menjadi 'budak cicilan'.

    Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam instagram resminya @lps_idic memberi sejumlah tips agar tidak menjadi budak cicilan. Dikutip Sabtu, 6 Maret 2021, LPS membeberkan enam langkah-langkahnya.






    Pertama, menyusun anggaran keuangan pribadi. Langkah ini untuk mengetahui kesehatan arus kas seseorang. Terpenting dari langkah ini adalah memastikan jumlah pemasukan yang diterima lebih besar dari jumlah pengeluaran.

    Kedua, mengetahui tenor, jumlah pinjaman pokok, dan bunga yang harus dikembalikan. Ketiga, memiliki batas utang maksimal yang mampu dibayar dari pendapatan bulanan.

    Keempat, memikirkan dengan matang sebelum melakukan pinjaman. Kelima, membeli barang yang memang prioritas dan dibutuhkan. Keenam, memilih suku bunga terbaik dan jumlah cicilan dengan cermat.

    Sebelumnya, Lead Financial Trainer QM Financial Ligwina Hananto dalam kegiatan Entrepreneurship Series for Media Group menyarankan agar maksimal utang yang dimiliki seseorang adalah sebesar 30 persen. Jika lebih, maka orang itu perlu mengecek utang-utang tersebut.

    Kemudian, prioritaskan bayar utang dengan bunga yang paling tinggi agar meringankan beban utang yang harus dibayarkan pada bulan selanjutnya. Jika utang menggunung, segera dilunasi, jika perlu jual aset untuk membayar utang tersebut.

    "Jadi kalau ada masalah dengan utang, jangan lompat mau investasi dulu. Sebelum berinvestasi, beresin dulu utangnya. Kalau utang KPR, KPA, enggak masalah, bayar saja sampai lunas. Tapi kalau utang kartu kredit atau pinjol, itu harus dibunuh dan segera dilunasi," tegas dia.

    Ligwina membeberkan tiga langkah solusi utang, yakni setop, cari, dan lakukan. Pertama, setop penggunaan kartu kredit atau aplikasi pinjaman online, setop utang tambahan, dan setop pengeluaran gaya hidup yang bersifat hedon atau foya-foya.

    Kedua, cari penghasilan seperti bonus atau THR untuk bayar utang. Kemudian cari dan jual aset atau barang-barang yang masih bernilai untuk dijual di bazar, serta cari penghasilan tambahan.

    Terakhir lakukan. Bayar utang di awal saat terima gaji, prioritaskan bayar utang dengan bunga paling tinggi, terapkan budget bulanan dan lakukan monitoring, serta negosiasi dan minta keringanan dengan pihak pemberi pinjaman.

    Meski demikian, Ligwina tak anti utang. Menurutnya berutang diperbolehkan asal hati-hati dan memenuhi sejumlah unsur. Pertama, boleh berutang asalkan ada lawannya berupa pembiayaan aset. Kedua, periode cicilan minimal usahakan sama dengan periode penggunaan aset. Ketiga, sanggup membayar cicilan.

    "Misalnya gini, kalau kita mau utang, jadi apa? Apakah jadi mobil, motor, atau rumah, harus jelas sehingga ada lawannya. Cicilannya ini juga harus jelas, kalau mobilnya dipakai tiga tahun, maka dicicilnya tiga tahun. Terakhir, apakah kita mampu bayar atau enggak, dalam hal ini pakai patokan rasio kesehatan pengelolaan keuangan yaitu maksimal 30 persen dari penghasilan," ungkapnya.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id