Dampak Ekonomi Akibat Virus Korona Lebih Besar dari SARS

    Nia Deviyana - 29 Januari 2020 20:29 WIB
    Dampak Ekonomi Akibat Virus Korona Lebih Besar dari SARS
    Seorang penumpang Tiongkok yang baru tiba dari Wuhan ke Bejing diperiksa suhu tubuhnya oleh petugas di stasiun kereta api Beijing. FOTO: Getty Images/Kevin Frayer
    Washington: Jumlah kasus korona di Tiongkok tercatat sudah melebihi infeksi saluran pernapasan berat atau SARS. Hal ini diprediksi dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih parah dibandingkan epidemi SARS yang terjadi pada 2002-2003.

    Butuh lebih dari enam bulan bagi SARS untuk menginfeksi 5.000 manusia di Tiongkok Daratan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, ada 5.327 kasus SARS antara 1 November 2002 dan 31 Juli 2003.

    Sementara pada kasus korona, hanya butuh satu bulan virus ini menginfeksi hampir 5.000 orang. Virus ini pertama kali dilaporkan di Wuhan, Tiongkok pada 31 Desember 2020.

    Menurut Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok, jumlah kasus di Tiongkok Daratan mencapai 5.974 pada Selasa, 28 Januari 2020.

    Otoritas kesehatan setempat mengatakan, tingkat kematian untuk virus ini antara 2-3 persen, sementara SARS 7 persen.

    "Ada alasan untuk khawatir tentang virus kali ini dibandingkan dengan SARS karena pertama-tama, konektivitas dalam hal transportasi dan ekonomi jauh lebih besar saat ini (dibandingkan) dengan episode SARS," ujar Ekonom Senior di Oxford Economics, Tommy Wu, seperti dilansir CNBC International, Rabu, 29 Januari 2020.

    Sejauh ini virus korona telah menyebar di luar Wuhan ke Beijing, Shanghai, dan kota-kota berpenduduk padat lainnya di Tiongkok. Kasus-kasus di bagian lain Asia seperti Thailand, Jepang, Singapura dan Korea Selatan, juga telah dilaporkan. Di Eropa, kasus telah ditemukan di Prancis dan Jerman. Di Amerika Serikat, sudah lima kasus dikonfirmasi.

    "Kami percaya dampak ekonomi dari virus korona bisa lebih besar dibandingkan dengan SARS pada 2003," tulis analis dari Nomura dalam laporannya.

    Analis Nomura mencatat, pertumbuhan PDB riil Tiongkok anjlok sebesar dua poin persentase (pp) dari kuartal pertama ke kuartal kedua 2003 karena wabah SARS.

    "Berdasarkan asumsi kami, pertumbuhan PDB riil pada kuartal 1-2020 dapat turun secara material dari laju 6,0 persen yang dicapai pada kuartal IV-2019, pada skala yang mungkin lebih besar dari dua poin persentase yang terdaftar selama wabah SARS pada 2003," jelasnya.

    Analis lain beranggapan dampak ekonomi hanya sebagai kejutan sementara (baik pada sisi permintaan dan penawaran) dan mungkin tidak selalu meninggalkan dampak jangka panjang.

    "Namun, skala perlambatan saat ini dan waktu pemulihan jelas ditentukan oleh virus korona yang sedang berlangsung, yang masih belum pasti," kata Nomura.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id