AS-Tiongkok Berpeluang Teken Kesepakatan Fase Satu sebelum Natal

    Angga Bratadharma - 23 November 2019 11:02 WIB
    AS-Tiongkok Berpeluang Teken Kesepakatan Fase Satu sebelum Natal
    Ilustrasi. AFP PHOTO/GREG BAKER
    New York: Kesepakatan perdagangan fase satu antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok berpeluang dapat diselesaikan dan ditandatangani sebelum Natal tahun ini. Tentu penandatanganan fase satu tersebut menjadi penting karena bisa menstabilkan aktivitas perdagangan dan ujungnya terhadap perkekonomian dunia.

    Tidak ditampik, optimisme negosiasi dagang antara AS dan Tiongkok sirna dalam beberapa hari terakhir menyusul adanya laporan bahwa Washington dan Beijing memiliki beberapa masalah. Sebuah sumber Pemerintah Tiongkok mengatakan Tiongkok memiliki masalah setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dia belum setuju untuk mencabut tarif.

    Namun demikian, Direktur Pelaksana dan Wakil Ketua Pimco John Studzinski berpandangan, masih ada peluang kedua negara mencapai kesepakatan. Adapun Pimco merupakan perusahaan raksasa investasi dan obligasi. "Jelas ada masalah yang tersisa tentang target pembelian pertanian, teknologi paksa (transfer) dan masalah penegakan hukum yang lebih luas," ucapnya.

    "Tapi saya pikir pandangannya adalah untuk mencoba menyelesaikan sesuatu pada awal Desember dan menandatanganinya sebelum Natal. Dan saya pikir Trump melihat ini penting. Dia mendapat banyak dukungan dari CEO Amerika yang ingin melihat beberapa jenis stabilisasi," katanya, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 23 November 2019.

    Dua ekonomi terbesar di dunia berada di tahun kedua perang dagang yang telah melukai sentimen investor dan bisnis, serta memperlambat aktivitas ekonomi global. Baik AS maupun Tiongkok telah mengenakan tarif bernilai miliaran dolar untuk produk masing-masing -dengan kemungkinan lebih banyak akan terjadi jika pembicaraan di antara mereka gagal.

    "Tetapi mencapai kesepakatan fase satu tidak akan menyelesaikan semua masalah antara kedua raksasa ekonomi itu," kata Studzinski.

    "Apakah kita suka atau tidak, kita semua menyaksikan peristiwa besar sejak Perang Dunia II dengan kebutuhan dua budaya yang tangguh ini. Dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih kuat dan stabil jika mereka dapat menemukan cara untuk menyelaraskan kepentingan mereka, daripada berusaha untuk bersaing," tambahnya.

    Sebelumnya, negosiasi perdagangan berisiko tinggi antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali mengalami masalah ketika kedua negara berusaha untuk menyelesaikan perjanjian perdagangan terbatas. Tidak dipungkiri, kondisi tersebut bakal menghilangkan angin segar di pasar keuangan dan pasar saham yang kini perlahan mulai membaik.
     
    "AS berusaha untuk mengamankan konsesi yang lebih kuat dari Tiongkok untuk mengatur perlindungan kekayaan intelektual dan guna menghentikan praktik transfer teknologi paksa sebagai imbalan untuk menarik kembali beberapa tarif," mengutip orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.
     
    Kedua belah pihak mengalami kebuntuan meski mereka mengatakan pada prinsipnya memiliki kesepakatan perjanjian kurang dari sebulan yang lalu. The Wall Street Journal pertama kali melaporkan hambatan dalam pembicaraan perdagangan, dengan Tiongkok ragu untuk berkomitmen atas sejumlah produk pertanian tertentu dalam teks kesepakatan potensial.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id