Kekang Inflasi, Uzbekistan Pertahankan Suku Bunga

    Ade Hapsari Lestarini - 22 April 2019 07:41 WIB
    Kekang Inflasi, Uzbekistan Pertahankan Suku Bunga
    Presiden Uzbek Shavkat Mirziyoyev. (FOTO: Tobias Schwarz/AFP)
    Tashkent: Dewan bank sentral Uzbekistan memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga pembiayaan kembali pada level 16 persen per tahun.

    Melansir Xinhua, Senin, 22 April 2019, keputusan tersebut untuk mempertahankan kondisi kebijakan moneter saat ini yang bertujuan mengekang inflasi dan mengonsolidasikan tren penurunan ekspektasi inflasi, kata regulator.

    Bank Pembangunan Asia (ADB) mengatakan dalam sebuah laporan yang dirilis awal bulan ini mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Uzbekistan akan naik menjadi 5,2 persen dan inflasi akan melambat menjadi 16 persen pada 2019.

    Namun, ekonomi negara itu tetap dihadang ekspansi kredit yang terus-menerus meningkat, serta inflasi dan defisit neraca berjalan yang semakin melebar, menurut ADB.

    ADB sebelumnya melaporkan bahwa ekonomi Tiongkok akan terus tumbuh di atas enam persen di tahun ini dan 2020. Kondisi itu diyakini terjadi sejalan dengan target pertumbuhan Pemerintah Tiongkok dari 6-6,5 persen.

    Mengutip Xinhua, Sabtu, 6 April 2019, Outlook Perkembangan Asia atau Asian Development Outlook (ADO) terbaru 2019, sebuah publikasi ekonomi utama ADB, mengatakan ekonomi Tiongkok diperkirakan tumbuh 6,3 persen pada 2019 dan 6,1 persen pada 2020. Ekonomi Tiongkok tetap kuat meskipun terjadi perlambatan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir.

    Kepala Ekonom ADB Yasuyuki Sawada mengatakan reformasi fiskal yang menguntungkan pada awal tahun, terutama pada pajak penghasilan pribadi dan jaminan sosial, akan membantu mengurangi dampak buruk yang diantisipasi termasuk pertumbuhan upah yang lebih lemah dan mendorong konsumsi domestik.

    "Tiongkok melihat adanya pertumbuhan melambat dari 6,8 persen pada 2017 menjadi 6,6 persen pada 2018, sejalan dengan target pertumbuhan pemerintah sekitar 6,5 persen," kata ADO.

    Di sisi permintaan, dikatakan ADO, konsumsi memberikan konfirmasi perannya sebagai pendorong utama pertumbuhan dengan menyumbang 5,0 poin atau naik dari 3,9 poin pada 2017. Sedangkan Pemerintah Tiongkok memperkuat dukungannya untuk konsumsi swasta ketika memperkenalkan reformasi pajak penghasilan pribadi.

    ADO mengatakan inflasi harga konsumen Tiongkok akan tetap jinak pada 1,9 persen pada 2019 dan 1,8 persen pada 2020. Laporan lebih lanjut mengatakan bahwa pengeluaran publik pada 2019 dan 2020 diperkirakan lebih tinggi daripada 2018 untuk mendukung perekonomian.


    ADO dalam laporan itu menambahkan bahwa langkah-langkah pemerintah baru-baru ini untuk meningkatkan peluang investasi bagi orang asing akan mendorong arus masuk modal ke daerah. "Masuknya modal akan meningkat," kata laporan itu.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id