Dolar AS Melempem

    Antara - 04 Desember 2019 09:31 WIB
    Dolar AS Melempem
    Ilustrasi. FOTO: Dok MI
    New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), karena selera investor terhadap aset-aset berisiko berkurang. Di sisi lain, perang dagang yang sedang terjadi antara Amerika Serikat dengan Tiongkok juga memberikan beban tersendiri.

    Mengutip Antara, Rabu, 4 Desember 2019, indeks USD1 yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,12 persen menjadi 97,7379 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,1081 dari USD1,1076 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,2992 dari USD1,2942 pada sesi sebelumnya.

    Dolar Australia naik menjadi USD0,6841 dibandingkan dengan USD0,6820. Dolar AS dibeli 108,57 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan dengan 108,96 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9867 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9914 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3300 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3297 dolar Kanada.

    Dolar AS kehilangan kekuatan terutama terhadap mata uang safe haven tradisional seperti yen Jepang dan franc Swiss di tengah ketidakpastian perdagangan global dan data ekonomi AS yang suram. Sedangkan Presiden AS Donald Trump kembali melepaskan tembakan untuk menggelorakan perang dagang.

    Namun kali ini bukan dengan Tiongkok, negara yang juga masih terlibat perang dagang dengan AS dalam dua tahun terakhir. Pada Senin, 2 Desember Trump memulai perang dagang dengan dua kawasan sekaligus, yakni Amerika Latin dan Eropa. Trump mengumumkan pemberlakuan kembali tarif pada baja dan aluminium Brasil serta Argentina.

    Dalam hal ini, Trump menuduh kedua negara tersebut telah mendevaluasi mata uangnya secara besar-besaran sehingga merugikan daya saing petani Amerika Serikat. Trump juga mengancam segera mengenakan tarif hingga 100 persen atas barang-barang Prancis senilai USD2,4 miliar.

    Alasannya karena negara itu telah memberlakukan tarif yang tinggi pada perusahaan teknologi AS, seperti Google, Apple, Facebook, dan Amazon. Dolar juga tertekan setelah sektor manufaktur AS terus menurun pada bulan lalu di tengah data persediaan dan pesanan baru yang lemah, sebut laporan yang dirilis oleh lembaga riset Institute for Supply Management.

    Menurut laporan tersebut, indeks pembelian manajer (PMI) sektor manufaktur Amerika Serikat turun menjadi 48,1 persen pada November dari angka Oktober di 48,3 persen. Ekonom yang disurvei oleh MarketWatch memperkirakan indeks PMI manufaktur AS akan mencatat angka 49,2 persen. Angka di bawah 50 persen mewakili kontraksi.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id