Kepala Bank Sentral Eropa Kecam Trump

    Angga Bratadharma - 22 Juni 2019 15:03 WIB
    Kepala Bank Sentral Eropa Kecam Trump
    Presiden European Central Bank Mario Draghi (DANIEL ROLAND/AFP)
    Portugal: Kepala bank sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) Mario Draghi berseru keras kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Pernyataan keras itu dikeluarkan hanya beberapa jam setelah komandan tertinggi AS menuduhnya tidak adil karena menargetkan nilai tukar euro.

    "Kami memiliki wewenang kami dan kami memiliki mandat. Mandat kami adalah stabilitas harga yang didefinisikan sebagai tingkat inflasi yang mendekati di bawah dua persen dalam jangka menengah," tegas Draghi di forum tahunan ECB, di Sintra, Portugal, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 22 Juni 2019.

    Dia mengulangi pernyataan bahwa bank sentral zona Euro siap menggunakan semua instrumen yang diperlukan untuk memenuhi mandat tersebut dalam rangka menjaga stabilitas perekonomian. "Dan kami tidak menargetkan nilai tukar," kata Draghi.

    Trump mengkritik Draghi karena membuka pintu bagi lebih banyak stimulus moneter di Eropa, yang kemungkinan akan melemahkan mata uang umum terhadap greenback. Adapun Trump menilai euro yang lebih lemah akan membuat lebih tidak adil bagi Eropa untuk bersaing melawan AS.

    "Mereka telah lolos selama bertahun-tahun, bersama dengan Tiongkok dan lainnya," kata Trump dalam tweetnya.

    Draghi secara efektif membuka jalan bagi lebih banyak stimulus berdatangan di mana bank sentral Eropa dapat memotong suku bunga lagi atau memberikan pembelian aset lebih lanjut jika inflasi tidak mencapai targetnya. Sedangkan euro turun 0,2 persen terhadap dolar karena Draghi menyampaikan pernyataan dimaksud.

    Imbal hasil obligasi 10 tahun Jerman mencapai 0,30 persen untuk pertama kalinya dan imbal hasil surat utang Pemerintah AS 10 tahun mencapai titik terendah sejak September 2017 di 2,0475 persen. Nada dovish yang diperbarui dari Draghi ini muncul setelah bertahun-tahun suku bunga sangat rendah di zona euro setelah krisis utang negara pada 2011.

    ECB juga menyediakan pembelian obligasi korporasi dan pemerintah, serta pinjaman yang lebih murah kepada bank. Sedangkan nama-nama lain di bidang keuangan mencoba membela keputusan Draghi dan menyatakan bahwa ECB akan selalu menjadi lembaga independen.

    Gubernur bank sentral Islandia Mar Gudmundsson mengatakan jika ECB berpikir perlu stimulus lebih lanjut maka itu karena ingin mendapatkan inflasi yang lebih tinggi. Itu tidak selalu berarti bahwa nilai tukar riil euro akan terdepresiasi cukup besar terhadap dolar AS.

    "Setidaknya tidak dalam jangka panjang. Ini bervariasi dari waktu ke waktu, terkadang dolar AS kuat terhadap euro dan kadang-kadang sebaliknya. Tidak ada yang salah dengan itu," pungkasnya.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id