Ketakutan Manajer Investasi Meningkat terkait Resesi Ekonomi

    Husen Miftahudin - 21 September 2019 13:02 WIB
    Ketakutan Manajer Investasi Meningkat terkait Resesi Ekonomi
    Ilustrasi. Foto: RBS
    New York: Survei terhadap manajer investasi mengungkapkan risiko resesi ekonomi global adalah perhatian yang tertinggi sejak Agustus 2009. Hal itu karena didukung pertumbuhan ekonomi yang melambat, serta ketidakpastian perdagangan dan politik yang berdampak negatif pada sentimen investor.

    Mengutip CNBC, Sabtu, 21 September 2019, sekitar 38 persen investor yang disurvei dalam Survei Manajer Dana Merrill Lynch Bank of America untuk September memperkirakan terjadi resesi pada tahun depan. Angka itu naik dibandingkan dengan posisi 34 persen dalam survei Agustus, respons tertinggi sejak Oktober 2011.

    Investor yang disurvei antara 6 September dan 12 September tidak menunjukkan tanda-tanda adanya perputaran ke dalam aset nilai. Sementara itu, hanya tujuh persen responden yang mengharapkan nilai saham bisa mengungguli pertumbuhan ekonomi selama 12 bulan ke depan. Tidak ditampik, ketidakpastian sedang menyelimuti investor.

    Survei tersebut, yang dilakukan terhadap 235 responden dengan aset terkelola senilai USD683 miliar, mengungkapkan bahwa investor melihat stimulus fiskal Jerman membawa potensi paling bullish untuk aset berisiko selama enam bulan ke depan, diikuti oleh pemotongan suku bunga 50 basis poin dari Federal Reserve AS dan belanja infrastruktur Tiongkok.

    Sementara itu, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok terus menjadi daftar risiko teratas dari pandangan investor, dengan 40 persen mengutip perdagangan dunia sebagai keprihatinan utama. Ketika ditanya tentang resolusi perang dagang, 38 persen dari mereka mengatakan kebuntuan saat ini antara dua ekonomi terbesar dunia adalah normal baru.

    Di belakang ketegangan perdagangan, impotensi kebijakan moneter, dan kemungkinan gelembung pasar obligasi adalah dua kekhawatiran utama berikutnya, yang masing-masing dikutip oleh 13 persen investor, dengan perlambatan Tiongkok yang berada di posisi empat dengan angka 12 persen.

    "Kami tetap bullish karena bulan ini investor hanya menunjukkan sedikit peningkatan minat risiko," kata Kepala Strategi Investasi Bank of America Merrill Lynch Michael Hartnett, seraya menambahkan stimulus fiskal akan menawarkan dorongan paling kuat untuk optimisme investor, memperkuat rotasi obligasi ke saham, dan pertumbuhan ke nilai.

    Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana mempertimbangkan kesepakatan perdagangan sementara dengan Tiongkok, meskipun ia tidak menyukainya. Trump mengaku ingin menandatangani perjanjian penuh dengan Beijing. Namun, dia lebih memilih membiarkan pintu terbuka untuk tercapainya kesepakatan terbatas.
     
    "Jika kita akan melakukan kesepakatan, mari kita selesaikan. Banyak orang membicarakannya, saya melihat banyak analis mengatakan kesepakatan sementara. Artinya kita akan mengerjakannya, yang mudah dulu," kata Trump.
     
    "Tetapi tidak ada yang mudah atau sulit. Ada kesepakatan atau tidak ada kesepakatan. Tapi itu sesuatu yang akan kita pertimbangkan, kurasa (mencapai kesepakatan dagang sementara dengan Tiongkok)," pungkas Trump.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id