IEA Turunkan Perkiraan Pertumbuhan Permintaan Minyak

    Antara - 19 Juli 2019 08:50 WIB
    IEA Turunkan Perkiraan Pertumbuhan Permintaan Minyak
    Ilustrasi (FREDERIC J. BROWN/AFP)
    New Delhi: Badan Energi Internasional (IEA) mengurangi perkiraan permintaan minyak 2019 karena perlambatan ekonomi global di tengah pertengkaran perdagangan Amerika Serikat-Tiongkok. Meski demikian, ada harapan agar pasar minyak tetap stabil dan harganya bisa kembali naik seperti tahun-tahun sebelumnya.

    "IEA merevisi perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global 2019 menjadi 1,1 juta barel per hari (bph) dan dapat memangkasnya lagi jika ekonomi global dan terutama Tiongko menunjukkan pelemahan lebih lanjut," kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 19 Juli 2019.

    Tahun lalu, IEA memperkirakan bahwa permintaan minyak 2019 akan tumbuh 1,5 juta barel per hari tetapi telah memangkas perkiraan pertumbuhannya menjadi 1,2 juta barel per hari pada Juni tahun ini. Hal itu sejalan dengan perekonomian Tiongkok yang melambat dalam tiga dekade terakhir.

    "Begitu juga beberapa negara maju. Jika ekonomi global berkinerja lebih buruk daripada yang kita perkirakan, maka kita bahkan dapat melihat angka kita sekali lagi turun dalam beberapa bulan ke depan," kata Birol.

    Dia mengatakan permintaan minyak terpukul oleh perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok pada saat pasar dibanjiri dengan minyak, karena meningkatnya produksi serpih AS. Produksi minyak AS diperkirakan akan tumbuh 1,8 juta barel per hari pada 2019, yang akan lebih lambat dari kenaikan 2,2 juta barel per hari yang tercatat pada 2018.

    "Volume ini akan masuk ke pasar di mana pertumbuhan permintaan turun," tutur Birol.

    IEA prihatin dengan meningkatnya ketegangan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, rute pelayaran vital yang menghubungkan produsen minyak Teluk ke pasar di Asia, Eropa, Amerika Utara, dan tempat lain. Washington mengatakan Iran berada di belakang serangan terhadap tanker di dekat Selat pada Mei dan Juni, tuduhan yang dibantah Teheran.

    "Kami terus mengawasi apa yang terjadi di sana. Dan jika sesuatu terjadi, kami siap untuk bertindak cepat dan tegas," katanya, setelah laporan bahwa Iran telah menyita tanker asing penyelundupan bahan bakar di Teluk.

    "Sekitar 20 juta barel per hari minyak, atau sekitar sepertiga dari minyak yang diperdagangkan secara global, melewati Selat," tambah Birol.

    Produsen-produsen minyak utama mencari rute alternatif. Irak berencana untuk mengekspor lebih banyak minyak ke pelabuhan Ceyhan di Turki dan membangun jaringan pipa baru untuk mengirimkan minyak ke pelabuhan di Suriah, Lebanon dan Arab Saudi.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id