Ketegangan AS-Tiongkok Diprediksi Berkepanjangan

    Angga Bratadharma - 21 September 2019 21:02 WIB
    Ketegangan AS-Tiongkok Diprediksi Berkepanjangan
    Presiden Donald Trump (kiri) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Jim Watson/AFP
    New York: Kepala Eksekutif Warburg Pincus Charles Kaye memperkirakan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok bakal berlarut-larut selama dekade berikutnya, sehingga investor harus belajar untuk beroperasi di bawah ketidakpastian yang berkepanjangan. Meski demikian, tetap ada harapan agar ketegangan segera hilang demi kepentingan bersama.

    Dua ekonomi teratas dunia ini telah terlibat dalam perang dagang yang dimulai setahun lalu dengan dimulai pertarungan tarif. Namun, kondisi itu meluas ke bidang-bidang lain seperti teknologi. Ketika perselisihan berlanjut, banyak investor dan analis semakin menurunkan harapan mereka untuk kedua negara segera menemukan resolusi cepat.

    "Ada banyak perdebatan tentang negosiasi perdagangan saat ini dan apakah kesepakatan terjadi atau tidak. Saya pikir pandangan yang lebih luas yang saya miliki adalah bahwa kita semua hanya perlu belajar untuk hidup dengannya," kata Charles Kaye, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 21 September 2019.

    "Kita harus hidup dengan ketidakpastian dan dinamika bahwa akan ada titik kolaborasi dan titik kontes, dan mudah-mudahan tidak ada yang berubah menjadi sesuatu yang entah bagaimana memiliki dimensi negatif untuk itu," tambahnya.

    Kaye menilai mengakomodasi kenyataan baru itu tidak berarti harus menerima pengembalian investasi yang lebih kecil. Pasalnya, lanjutnya, Tiongkok meskipun berada di pusat perang dagang masih bisa menawarkan investor pengembalian imbal hasil yang baik di tahun-tahun mendatang.

    "Itu karena pertumbuhan global akan semakin didorong oleh konsumsi di Asia, dan Tiongkok adalah bagian penting dari tren itu. Jika saya melihat apa yang kami lakukan, itu semua benar-benar fokus pada kebangkitan orang kaya. Munculnya konsumen apakah itu di konsumen, atau logistik, atau kesehatan, jasa keuangan, dan real estat," kata Kaye.

    "Saya berpendapat (bahwa) jenis pertumbuhan menjadi lebih dan lebih relevan bagi dunia. Namun itu datang pada saat yang sama ketika konflik itu sendiri meningkat," ungkap Kaye, merujuk pada sengketa perdagangan antara AS-Tiongkok.

    Di sisi lain, Menteri Keuangan Amerika Serikat Steven Mnuchin mengklaim Presiden AS Donald Trump dapat melakukan perjanjian dengan Tiongkok kapan saja. Akan tetapi, Mnuchin menegaskan, fokus Trump adalah mencari kesepakatan terbaik untuk para pekerja Amerika.
     
    "Presiden (AS Donald Trump) benar. Dia bisa melakukan kesepakatan kapan saja (dengan Tiongkok). Tapi dia hanya ingin melakukan banyak hal. Dan izinkan saya hanya mengingatkan Anda, diskusi ini (bahas perdagangan dengan Tiongkok) telah berlangsung selama dua setengah tahun," kata Mnuchin.
     
    "Dan Presiden Trump hanya akan menyetujui kesepakatan jika itu adalah kesepakatan yang bagus. Kesepakatan yang baik untuk perusahaan AS dan pekerja AS," pungkas Mnuchin.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id