Pelemahan USD Jadi Harapan untuk Ekonomi Global

    Angga Bratadharma - 05 Oktober 2019 20:06 WIB
    Pelemahan USD Jadi Harapan untuk Ekonomi Global
    Ilustrasi. Foto: RBS
    New York: Kepala Ekonom sekaligus CIO Saxo Bank Steen Jakobsen menilai melemahnya dolar Amerika Serikat (USD) adalah harapan terakhir untuk menyelamatkan ekonomi global. Tidak ditampik, mata uang Paman Sam terus terlihat menguat akhir-akhir ini seiring keputusan sejumlah bank sentral di dunia memangkas suku bunga acuan ke level yang cukup rendah.

    Dalam laporan prospek perdagangan dan investasi spesialis online untuk kuartal keempat, Jakobsen mengatakan, 2019 kemungkinan besar akan dikenang sebagai tahun yang memicu resesi global meskipun tingkat bunga nominal dan riil berada di level terendah yang pernah ada.

    "Kebijakan moneter telah mencapai ujung jalan yang sangat panjang dan telah terbukti gagal," kata Jakobsen, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 5 Oktober 2019.

    Federal Reserve pada September melakukan pemangkasan suku bunga acuan keduanya sebanyak 25 basis poin ke kisaran 1,75-2 persen. Adapun penurunan sebanyak 25 basis poin awal pada Juli silam adalah penurunan suku bunga acuan pertama bank sentral AS sejak krisis keuangan.

    Sedangkan bank sentral Eropa (ECB) baru-baru ini meluncurkan paket tindakan untuk menyegarkan kembali ekonomi zona euro dengan memangkas suku bunga deposito 10 basis poin menjadi minus 0,5 persen. Selain itu, ECB juga meluncurkan program pelonggaran kuantitatif (QE) besar-besaran yang baru.

    Tidak hanya itu, sejumlah bank sentral di seluruh dunia pun telah memulai perubahan kebijakan yang dovish. Langkah itu diambil oleh sejumlah bank sentral di dunia guna merespons perlambatan ekonomi global akibat munculnya ketidakpastian termasuk perang dagang yang terjadi antara AS dengan Tiongkok.

    Bahkan, kekhawatiran akan ekonomi global belakangan ini kian diperburuk oleh data manufaktur AS yang berada di level terlemah selama lebih dari satu dekade. Kondisi itu memperparah kondisi yang sudah suram dari seluruh zona euro dan sekitarnya.

    "Dalam sistem global, kebijakan moneter yang gagal dan jalan yang panjang serta sulitnya kebijakan fiskal maka hanya ada satu alat lain yang tersisa di kotak untuk ekonomi global. Dan itu adalah USD. Jika USD naik terlalu banyak, tekanan dalam sistem meningkat. Tidak hanya untuk ekspor AS, tetapi juga untuk pasar negara berkembang," pungkasnya.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id