AS Tidak Ubah Tarif Tiongkok, Yuan Tumbang

    Antara - 15 Januari 2020 08:30 WIB
    AS Tidak Ubah Tarif Tiongkok, Yuan Tumbang
    Ilustrasi. AFP Photo/Frederic J Brown
    New York: Kurs yuan Tiongkok melemah pada perdagangan terakhir Selasa waktu setempat (Rabu WIB) dan yen Jepang membalikkan kerugian setelah sebuah laporan bahwa Amerika Serikat akan mempertahankan tarif atas barang-barang Tiongkok hingga pemilihan umum AS sehingga merugikan sentimen risiko.

    Berita itu datang sehari sebelum penandatanganan perjanjian perdagangan AS-Tiongkok fase satu untuk meredakan perang dagang yang telah berlangsung selama 18 bulan. Bloomberg News melaporkan bahwa Amerika Serikat akan meninjau dan menghapus tarif yang ada tidak lebih dari 10 bulan setelah kesepakatan ditandatangani.

    Mengutip Antara, Rabu, 15 Januari 2020, Departemen Keuangan AS menghapus penunjukannya atas Tiongkok sebagai manipulator mata uang dalam apa yang telah dilihat sebagai tindakan damai sebelum penandatanganan kesepakatan.

    Sentimen risiko telah membaik dan permintaan untuk aset-aset safe haven seperti yen telah menurun di tengah tanda-tanda bahwa kedua negara lebih dekat untuk melemahkan perang perdagangan yang telah dipersalahkan sebagai hambatan utama terhadap pertumbuhan global.

    "Kesepakatan perdagangan tidak membahas masalah struktural, tetapi setidaknya untuk pasar itu mengurangi beberapa tekanan dan beberapa kecemasan dan ketidakpastian yang mengganggu pasar sepanjang 2019," kata Kepala Analis Valas Amerika Utara TD Securities Mark McCormick, di Toronto.

    Yen Jepang menguat menjadi 109,92 setelah naik ke 110,2, yen terbanyak per dolar AS sejak 23 Mei tahun lalu, sebut Reuters. Yuan di pasar luar negeri melemah menjadi 6,89, setelah naik menjadi 6,87 per dolar AS, terkuat sejak 11 Juli tahun lalu.

    Franc Swiss juga mencapai tertinggi sesi di 0,966 karena pembelian safe haven, sehari setelah Amerika Serikat menambahkan Swiss ke dalam daftar pantau manipulator mata uang. Greenback naik terhadap euro karena penyeimbangan kembali akhir tahun yang menguntungkan mata uang tunggal dengan mengorbankan dolar AS terus dilepas.

    Euro telah jatuh menjadi 1,1130 dolar AS dari tertinggi lima bulan di 1,1239 dolar AS pada 31 Desember. "Kami mendapatkan beberapa pembalikan dari itu, bersama dengan, saya pikir kisah makro di Eropa umumnya masih lemah," kata McCormick.

    Data menunjukkan bahwa harga-harga konsumen AS naik sedikit pada Desember dan tekanan inflasi yang mendasari bulanan menurun, yang dapat memungkinkan Federal Reserve mempertahankan suku bunga setidaknya sepanjang tahun ini. Fokus ekonomi utama AS berikutnya adalah penjualan ritel yang akan dirilis pada Kamis.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id