Perjanjian Dagang AS-Tiongkok Diprediksi Tidak Bertahan Lama

    Nia Deviyana - 20 Januari 2020 14:51 WIB
    Perjanjian Dagang AS-Tiongkok Diprediksi Tidak Bertahan Lama
    Presiden AS Donald Trump (kiri) bersama dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. FOTO: Nicolas ASFOURI/AFP
    Washington: Kesepakatan dagang fase pertama antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok membawa optimisme bagi perekonomian tahun ini. Namun, Direktur Pelaksana perusahaan konsultan manajemen IMA Asia, Richard Martin, berpendapat itu tidak sepenuhnya bisa bertahan lama.

    Richard mengatakan, hanya ada 50 persen kemungkinan kesepakatan dagang fase satu bisa bertahan pada tahun pertama. Persentase itu bisa turun kembali menjadi 25 persen pada tahun kedua.

    Richard menjelaskan ada alasan mengapa perjanjian itu bisa berantakan dalam kerangka waktu tersebut.

    "Ada rekam jejak yang sangat buruk terkait aliran perdagangan yang diamanatkan pemerintah, dan itulah yang kami dapatkan saat ini," katanya seperti dilansir CNBC International, Senin, 20 Januari 2020.

    Richard menambahkan jika nantinya ada perselisihan antara kedua belah pihak, akan memungkinkan bagi Robert Lighthizer selaku Perwakilan Dagang AS saat ini untuk memberikan hukuman apapun kepada Tiongkok. Setelahnya, bisa diprediksi Tiongkok dapat meninggalkan perjanjian itu.

    Salah satu aspek utama dari perjanjian perdagangan "fase satu" yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu He menyepakati penambahan Tiongkok dalam membeli barang dan jasa AS sebesar USD200 miliar selama dua tahun.

    Beberapa pakar perdagangan dan analis mempertanyakan apakah itu target yang realistis, terutama ketika Beijing harus menggandakan pembelian beberapa produk.

    Meski demikian, Richard mengatakan setidaknya perjanjian itu untuk saat ini bisa menjadi penenang di tengah ketidakpastian ekonomi global.

    "Sehingga memungkinkan perusahaan untuk melakukan keputusan bisnis yang ditunda selama setahun terakhir, saat arah perang dagang AS-Tiongkok mengalami kebuntuan," imbuhnya.

    “Banyak perusahaan berhenti mengambil keputusan pada 2019. Mereka tidak tahu bagaimana tarif akan diberlakukan," lanjutnya.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id