Saham Asia Masih Dibayangi Korona

    Nia Deviyana - 12 Februari 2020 11:42 WIB
    Saham Asia Masih Dibayangi Korona
    Ilustrasi. FOTO: AFP.
    Shanghai: Saham di Asia bervariasi pada perdagangan Rabu karena kekhawatiran akan wabah virus korona masih berlangsung membebani investor.

    Melansir CNBC International, Rabu, 12 Februari 2020, indeks Nikkei 225 di Jepang naik 0,47 persen, sementara indeks Topix tetap di area negatif karena turun 0,2 persen.

    Saham konglomerat Jepang Softbank Group melonjak 11,61 persen setelah sebelumnya meroket lebih dari 12 persen. Langkah itu dilakukan setelah seorang hakim di Amerika Serikat menyetujui merger antara T-Mobile dan Sprint. Softbank adalah pemegang saham mayoritas Sprint.

    Saham Tiongkok Daratan bervariasi pada awal perdagangan, dengan komposit Shanghai turun 0,11 persen dan komponen Shenzhen naik 0,34 persen. Komposit Shenzhen menguat 0,292 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong 0,3 persen lebih tinggi.

    Sementara itu, Kospi Korea Selatan fraksional lebih rendah.

    Saham-saham di Australia bertahan pada kenaikan, dengan S & P/ASX 200 naik 0,49 persen karena saham Commonwealth Bank of Australia melonjak 3,53 persen.

    Saham perusahaan suplemen kesehatan Australia Blackmores melawan tren keseluruhan dan anjlok lebih dari 16 persen. Perusahaan sebelumnya mengumumkan tidak ada dividen dan memproyeksikan laba tahun ini turun lebih dari setengahnya karena rantai pasok yang terpengaruh wabah virus korona.

    Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia kecuali Jepang diperdagangkan 0,28 persen lebih tinggi.

    Semalam di Wall Street, S&P 500 ditutup 0,2 persen lebih tinggi pada level 3.357,75 sedangkan Nasdaq Composite naik 0,1 persen di angka 9.638,94. Dow Jones Industrial Average sempat naik sebanyak 138 poin sebelum ditutup datar di level 29.276,34.

    Pergerakan itu terjadi setelah Ketua bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengatakan, pihaknya memantau dengan seksama situasi seputar wabah virus korona yang sedang berlangsung, serta dampak potensial terhadap Tiongkok dan ekonomi global. Sejauh ini The Fed menilai terlalu dini untuk mengatakan wabah tersebut bisa menghantam ekonomi AS.

    Komentar Powell memberi angin segar di tengah investor yang terus bergulat dengan ketidakpastian akan virus yang telah merenggut lebih dari 1.000 nyawa, yang sebagian besar tercatat dari Tiongkok.

    “Berdasarkan komentar (Powell), jelas bahwa The Fed tidak terpengaruh, dan Tiongkok juga telah mengambil langkah-langkah kuat untuk mengendalikan virus serta menyediakan likuiditas. Ada sangat sedikit kasus di AS dan sejauh ini, dampaknya terhadap ekonomi AS terbatas," tulis direktur pelaksana strategi valuta asing di BK Asset Management, Kathy Lien, dalam catatannya.

     



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id