Negosiasi Dagang AS-Tiongkok Terhenti

    Angga Bratadharma - 16 November 2019 11:01 WIB
    Negosiasi Dagang AS-Tiongkok Terhenti
    Presiden Tiongkok Xi Jinping (kiri) bersama dengan Presiden AS Donald Trump. FOTO: AFP
    New York: Negosiasi perdagangan berisiko tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kembali mengalami masalah ketika kedua negara berusaha untuk menyelesaikan perjanjian perdagangan terbatas. Tidak dipungkiri, kondisi tersebut bakal menghilangkan angin segar di pasar keuangan dan pasar saham yang kini perlahan mulai membaik.

    "AS berusaha untuk mengamankan konsesi yang lebih kuat dari Tiongkok untuk mengatur perlindungan kekayaan intelektual dan guna menghentikan praktik transfer teknologi paksa sebagai imbalan untuk menarik kembali beberapa tarif," mengutip orang-orang yang mengetahui masalah tersebut, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 16 November 2019.

    Kedua belah pihak mengalami kebuntuan meski mereka mengatakan pada prinsipnya memiliki kesepakatan perjanjian kurang dari sebulan yang lalu. The Wall Street Journal pertama kali melaporkan hambatan dalam pembicaraan perdagangan, dengan Tiongkok ragu untuk berkomitmen atas sejumlah produk pertanian tertentu dalam teks kesepakatan potensial.

    Adapun Tiongkok dilaporkan telah setuju untuk membeli hingga USD50 miliar barang-barang pertanian AS sebagai bagian dari apa yang disebut kesepakatan perdagangan fase satu, Presiden Donald Trump mengklaim bulan lalu. Sedangkan pasar saham dengan cepat merespons laporan berita tersebut.

    Sementara kedua negara mencapai gencatan senjata pada bulan lalu dan mulai bekerja untuk menyelesaikan perjanjian perdagangan terbatas yang diperkirakan ditandatangani akhir bulan ini. Tiongkok bersikeras untuk mencabut tarif yang ada sebagai bagian dari kesepakatan itu, tetapi AS telah menunjukkan oposisi terhadap penghapusan tersebut.

    Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan tidak akan ada penyesuaian tarif sampai kesepakatan perdagangan dengan Tiongkok dibuat. Dia menambahkan kedua belah pihak telah membuat kemajuan dalam pencurian kekayaan intelektual, layanan keuangan, stabilitas mata uang, komoditas, dan pertanian.

    Pemerintahan Trump telah mengenakan tarif lebih dari USD500 miliar pada barang-barang Tiongkok. Sementara Beijing telah mengenakan bea sekitar USD110 miliar pada produk-produk Amerika. Pengenaan tarif satu sama lain ini yang akhirnya dikenal sebagai perang dagang yang ujungnya merusak pertumbuhan ekonomi dunia.

    Di sisi lain, studi dari Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) menunjukkan konsumen di Amerika Serikat (AS) menanggung beban tambahan atas tarif AS terhadap Tiongkok sejak pertengahan 2018. Sejauh ini perang dagang masih terus terjadi meski kedua negara mulai mendekati kesepakatan dagang.
     
    Dalam sebuah makalah berjudul "Efek Pengalihan Perdagangan dan Perdagangan dari tarif Amerika Serikat terhadap Tiongkok", UNCTAD memperingatkan bahwa tarif tambahan yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap Tiongkok, terutama pada Juli dan September 2018, secara ekonomi telah melukai kedua negara.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id