Tarif Baru Trump Dinilai Bukan Ide Buruk

    Angga Bratadharma - 18 Mei 2019 12:02 WIB
    Tarif Baru Trump Dinilai Bukan Ide Buruk
    Ilustrasi (AFP Ed Jones)
    New York: Mantan CEO Goldman Sachs Lloyd Blankfein menilai Amerika Serikat (AS) mungkin saat ini merasakan sakitnya perang tarif. Tetapi AS akan menyakiti Tiongkok dalam jangka panjang. Adapun eskalasi perang dagang meningkat kembali usai AS mengenakan tarif baru dan aksi tersebut dibalas oleh Tiongkok.

    "Tarif mungkin menjadi alat negosiasi yang efektif. Mengatakan itu menyakitkan ke kita  tidak tepat sasaran. Tiongkok lebih mengandalkan perdagangan dan kehilangan lebih banyak," kata Blankfein dalam cuitannya, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 18 Juni 2019.

    Ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia meningkat pada minggu lalu. Administrasi Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif barang impor senilai USD200 miliar dari Tiongkok menjadi 25 persen dari sebelumnya 10 persen. Sebagai tanggapan, Beijing membalas dengan bea hingga 25 persen atas barang-barang AS senilai USD60 miliar.

    Dalam cuit terpisah, Blankfein mengatakan tarif dapat menyebabkan konsumen AS mengalihkan pembelian mereka ke perusahaan lokal atau non-Tiongkok. Meskipun itu akan menyebabkan pihak AS membayar sedikit lebih banyak daripada yang mereka lakukan sekarang. Sebagai hasilnya, lanjutnya, perusahaan-perusahaan Tiongkok akan kehilangan pendapatan.

    "Tidak hebat tapi bagian dari proses untuk menegaskan tekanan untuk menyamakan kedudukan," tegasnya.

    Sementara AS memiliki sejumlah tuntutan bagi Tiongkok untuk menciptakan lingkungan bisnis yang lebih adil. Sedangkan Trump telah berfokus pada pengurangan defisit perdagangan AS dengan Tiongkok. Sejauh ini, Amerika Serikat adalah mitra dagang raksasa Asia.

    Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengatakan negara tersebut tidak akan pernah menyerah terhadap tekanan luar, setelah Washington memperbarui ancamannya untuk memberlakukan tarif atas semua produk impor Tiongkok dalam sengketa dagang yang semakin panas.
     
    Perang dagang antar-dua negara ekonomi terbesar di dunia itu memanas pada Jumat, dengan AS menaikkan tarif senilai USD200 miliar atas produk impor Tiongkok. Presiden Donald Trump menyebut Beijing melanggar kesepakatan lantaran mengingkari komitmen sebelumnya selama beberapa bulan perundingan.

    Trump memerintahkan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer untuk memulai pemberlakuan tarif atas semua produk impor Tiongkok yang tersisa, langkah yang dapat menambah sekitar USD300 miliar. Sedangkan Beijing bersumpah akan menanggapi tarif terbaru AS, namun belum mengumumkan perinciannya.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id