Bursa Saham Amerika Serikat Rontok

    Angga Bratadharma - 15 Juni 2019 07:03 WIB
    Bursa Saham Amerika Serikat Rontok
    Ilustrasi (Drew Angerer/AFP)
    New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) rontok pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), tertekan oleh kerugian di sektor teknologi. Di sisi lain, ketegangan perdagangan yang kian meningkat antara AS dengan Tiongkok juga memberikan efek negatif terhadap gerak pasar saham.

    Mengutip Xinhua, Sabtu, 15 Juni 2019, indeks Dow Jones Industrial Average turun sebanyak 17,16 poin atau 0,07 persen menjadi 26.089,61. Kemudian S&P 500 kehilangan 4,66 poin atau 0,16 persen menjadi 2.886,98. Indeks Komposit Nasdaq turun 40,47 poin atau 0,52 persen menjadi 7.796,66.

    Sektor teknologi merosot 0,83 persen, berkinerja terburuk di antara 11 kelompok S&P 500 utama. Sedangkan utilitas naik sebanyak 0,99 persen, melampaui yang lain. Sektor teknologi sebagian besar terseret oleh saham pembuat cip. Saham Broadcom ditutup turun 5,57 persen setelah pembuat cip AS melaporkan hasil kuartalan yang lemah.

    Saham pembuat cip lainnya termasuk Lam Research, Qualcomm dan Micron Technology, juga mengalami kesulitan. VanEck Vectors Semiconductor ETF (SMH), yang melacak kinerja keseluruhan perusahaan-perusahaan besar yang terdaftar di AS dalam industri semikonduktor, ditutup 2,67 persen lebih rendah.

    Di sisi ekonomi, University of Michigan melaporkan indeks sentimen konsumen turun menjadi 97,9 pada Juni dari 100 pada Mei. Bacaan itu meleset dari ekspektasi para analis atas 99 yang disurvei oleh MarketWatch. Meski demikian, diharapkan kondisi tersebut mengalami perbaikan di masa mendatang.

    Sementara itu, Departemen Perdagangan AS mengatakan penjualan ritel naik 0,5 persen pada bulan lalu, tepat di bawah ekspektasi para ekonom untuk kenaikan 0,6 persen. Data untuk April direvisi naik menjadi menunjukkan penjualan ritel menguat 0,3 persen, bukannya turun 0,2 persen seperti yang dilaporkan sebelumnya.

    Dolar AS telah pulih pada minggu terakhir setelah mengawali Juni dengan melemah. Hal itu karena investor mempertimbangkan apakah ekspektasi untuk penurunan suku bunga AS terbilang terlalu dibuat-buat terhadap data atau tidak. Sedangkan investor khawatir bahwa Presiden AS Donald Trump akan mengenakan tarif pada Jepang dan Eropa.

    Pasalnya kondisi tersebut dapat mengakibatkan bank sentral lebih dovish secara global dan memberikan dolar keuntungan relatif. Ekonomi AS juga dipandang memiliki posisi yang lebih baik untuk menangani ketegangan perdagangan dibandingkan negara lain.

    "Dolar AS sampai saat ini telah diuntungkan dari berita globalisasi negatif karena sisi domestik ekonomi AS terlihat cukup kuat untuk berurusan dengan headwinds terkait perdagangan," kata Analis Morgan Stanley dalam sebuah laporan.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id