Wall Street Merekah

    Angga Bratadharma - 26 November 2019 07:10 WIB
    Wall Street Merekah
    Ilustrasi. FOTO: Spencer Platt/AFP
    New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup pada Senin waktu setempat (Selasa WIB) dengan catatan yang menggembirakan. Pasalnya tiga indeks utama mencapai rekor tertinggi, karena Wall Street tetap berharap ada pengembangan pembicaraan perdagangan AS-Tiongkok.

    Mengutip Xinhua, Selasa, 26 November 2019, indeks Dow Jones Industrial Average naik 190,85 poin atau 0,68 persen menjadi 28.066,47. Sementara S&P 500 menguat 23,35 poin atau 0,75 persen menjadi 3.133,64. Indeks Nasdaq Composite naik 112,60 poin atau 1,32 persen menjadi 8.632,49.

    Kondisi perdagangan yang diawasi juga mendukung kenaikan 30 saham unggulan di indeks Dow Jones. Saham Intel dan Caterpillar masing-masing naik 2,08 persen dan 1,77 persen pada penutupan pasar.

    Sebanyak 10 dari 11 sektor utama S&P 500 diperdagangkan lebih tinggi di sekitar bel penutupan, dengan teknologi informasi naik 1,35 persen. Saham Tiffany naik 6,17 persen, setelah konglomerat barang mewah Prancis LVMH mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi perusahaan itu seharga USD16,2 miliar.

    "Akuisisi Tiffany akan memperkuat posisi LVMH dalam perhiasan dan semakin meningkatkan kehadirannya di Amerika Serikat," kata LVMH dalam sebuah pernyataan.

    Saham AS turun minggu lalu di tengah rilis gelombang data ekonomi dan risalah dari Federal Reserve. Dow mengalami kemunduran mingguan pertamanya dalam lebih dari sebulan dengan kerugian 0,46 persen. S&P 500 turun 0,33 persen, menghentikan kenaikan beruntun enam minggu. Nasdaq turun 0,25 persen, mengakhiri kemenangan beruntun tujuh minggu.

    Sementara itu, Federal Reserve Amerika Serikat menyebut risiko terbesar ekonomi AS secara keseluruhan tetap berkaitan dengan tarif tinggi dan kondisi perdagangan karena memberikan efek negatif terhadap berkurangnya laju investasi. Ada harapan agar perang tarif yang sedang terjadi bisa segera terhenti guna memberi katalis positif bagi perdagangan.
     
    "Saat ini, secara keseluruhan, skenario kasus dasar saya adalah pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, saya tidak memperkirakan resesi," kata Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari, dalam sebuah acara di Minnesota Chamber of Commerce.
     
    "Tapi ada risiko di cakrawala, risiko terbesar berada di sekitar tarif dan perdagangan serta ketidakpastian," tambahnya.

    Meski demikian, Kashkari menambahkan konsumen AS masih cukup kuat dengan tingkat upah meningkat. Selain itu, lanjutnya, indikator perekonomian ke depan sedikit lebih berhati-hati karena bisnis telah menarik kembali investasi mereka.
     
    "Kami melihat ini secara regional, kami melihat ini secara nasional, bisnis gelisah tentang masa depan, terutama yang terpapar ekonomi global," pungkasnya.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id