2020, AS Diprediksi Jadi Pemasok Utama Pasokan Minyak Global

    Angga Bratadharma - 15 Juni 2019 16:05 WIB
    2020, AS Diprediksi Jadi Pemasok Utama Pasokan Minyak Global
    Ilustrasi (AFP PHOTO/SCOTT HEPPELL)
    Houston: Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat atau Energy Information Administration (EIA) mengatakan dalam sebuah laporan bahwa pasokan global untuk bahan bakar cair akan meningkat pada 2020. Dalam konteks ini, EIA memperkirakan Amerika Serikat menjadi pemasok utama.

    Mengutip Xinhua, Sabtu, 15 Juni 2019, dalam Outlook Energi Jangka Pendek (STEO) terbarunya, EIA memperkirakan pasokan bahan bakar cair global naik 2,0 juta barel per hari pada 2020, dengan 1,4 juta dari pertumbuhan itu berasal dari Amerika Serikat. Sedangkan permintaan minyak global diperkirakan naik 1,4 juta barel per hari di 2020.

    Sedangkan untuk Amerika Serikat, EIA memperdiksi, produksi minyak mentah tahunan AS akan naik 1,4 juta barel per hari pada 2019 dan 0,9 juta barel per hari pada 2020, dengan produksi di 2020 rata-rata 13,3 juta barel per hari. EIA memperkirakan persediaan minyak global turun 0,3 juta barel per hari di 2019 dan kemudian meningkat 0,3 juta barel per hari pada 2020.

    Dalam hal harga minyak, EIA mengatakan harga spot minyak mentah Brent rata-rata USD71 per barel pada Mei, sebagian besar tidak berubah dari April 2019 dan hampir USD6 per barel lebih rendah dari harga pada Mei tahun lalu. Namun, harga Brent turun tajam dalam beberapa pekan terakhir, mencapai USD62 per barel pada 5 Juni.

    EIA memperkirakan harga spot Brent akan rata-rata USD67 per barel pada 2019, atau USD3 per barel lebih rendah dari perkiraan di STEO bulan lalu, dan tetap pada USD67 per barel pada 2020. Jalur harga EIA 2019 untuk Brent yang lebih rendah mencerminkan meningkatnya ketidakpastian tentang permintaan minyak global.

    Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok dipercaya berlangsung hingga bertahun-tahun mendatang. Berakhirnya eskalasi perang dagang tersebut jika ekonomi negara Adidaya ini merosot, alias mengalami perlambatan.
     
    "Perang dagang itu baru akan berkurang kalau AS sudah mendapatkan dampak negatif dari perang dagang," ujar Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah.
     
    Menurutnya semula AS dan Tiongkok mulai melakukan negosiasi untuk menurunkan tensi perang dagang. Namun, Presiden AS Donald Trump mendadak mengambil sikap untuk memberlakukan kenaikan tarif bea masuk barang Tiongkok dari 10 persen menjadi 25 persen.

    Kebijakan tersebut diambil lantaran Trump percaya perang dagang memberikan dampak positif bagi negaranya. Hal itu tercermin dari membaiknya pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I-2019. Di mana ekonomi negeri Paman Sam tercatat tumbuh 3,2 persen di atas ekspektasi yang hanya 2,6 persen.
     
    "Trump ngamuk lagi dan menaikkan tarif dan mengeskalasi perang dagang, karena pertumbuhan ekonomi di atas ekspektasi yakni, 3,2 persen," pungkas dia.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id