Ekonom Yakin Global Belum Alami Resesi Ekonomi

    Angga Bratadharma - 26 November 2019 17:31 WIB
    Ekonom Yakin Global Belum Alami Resesi Ekonomi
    Ilustrasi ekonomi global. Foto : AFP.
    Jakarta: Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) Adrian Panggabean meyakini belum akan terjadi resesi ekonomi dunia meski perekonomian global melambat dan ada ketidakpastian geopolitik. Namun, berbeda cerita jika kasus pemakzulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terjadi.

    "Apakah ada resesi? Sampai sekarang dengan indikator yang ada dari 7-8 indikator baru ada dua indikator yang mengindikasikan ke arah situ (resesi ekonomi dunia)," kata Adrian, dalam diskusi media Bersama Chief Economist CIMB Niaga, di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa, 26 November 2019.

    Menurutnya, probabilitas terkait resesi ekonomi dunia sekarang ini baru mencapai kisaran 30 persen. Meski demikian, Adrian tidak memungkiri kondisi ekonomi dunia sekarang ini tengah melambat dan masih ada sejumlah risiko yang bakal menghambat laju perekonomian global di masa-masa yang akan datang.

    "Sebab itu yang saya amini sekarang kondisi global di 2020 bukan resesi global tapi global slow down atau sagnasi. Jadi bukan resesi. Belum sampai ke situ (ke resesi ekonomi dunia). Resesi global banyak faktor. Misalnya dakwaan Trump (tentang kasus yang menimpanya). Itu dampaknya bisa ke mana-mana," tuturnya.

    Adrian menilai jika dakwaan Trump terbukti maka bisa membuat sentimen AS runtuh, kepercayaan investor rontok, dan bangunan diplomasi hancur yang ujungnya membuat kondisi kacau. Tapi tetap ada harapan agar resesi tidak terjadi karena bakal berdampak negatif bagi hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.

    "Kalau sampai sekarang belum karena probabilitas baru 30 persen. Jadi tida fatal lah," tukasnya.

    Sementara itu, pemerintah menyiapkan strategi dan langkah prioritas untuk menghadapi tantangan ekonomi tahun depan, baik dari sisi internal maupun eksternal. Pertama, pemerintah akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui transformasi struktural untuk memperkuat permintaan domestik dan kinerja perdagangan internasional.
     
    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan strategi kedua dengan menjaga stabilitas ekonomi makro dengan menjaga harga domestik dan nilai tukar pada tingkat yang stabil dan kompetitif. Ketiga, meningkatkan inklusivitas dan ekonomi yang berkelanjutan.
     
    "Peningkatan daya saing juga menjadi satu hal yang menjadi fokus perhatian. Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan pun diperlukan untuk bisa keluar dari garis kemiskinan dan mendorong pembangunan manusia," kata Airlangga.

    Airlangga meyakini dengan menerapkan strategi-strategi tersebut, ekonomi Indonesia diharapkan dapat tumbuh antara 5,3-5,6 persen di 2020. Angka tersebut terutama didukung oleh investasi yang diperkirakan akan meningkat sebesar tujuh sampai 7,4 persen dan ekspor yang juga naik di angka 5,5 sampai tujuh persen.
     
    Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan didukung oleh sektor industri yang akan meningkat antara lima hingga 5,5 persen. Sementara tingkat pengangguran diperkirakan akan turun menjadi 4,8 sampai dengan lima persen, disertai penurunan tingkat kemiskinan di kisaran 8,5 sampai sembilan persen.




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id