2019, IMF Pangkas Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Global

    10 April 2019 13:02 WIB
    2019, IMF Pangkas Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Global
    Ilustrasi (FOTO: AFP)
    Washington: Dana Moneter Internasional atau International Monetery Fund (IMF) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk 2019 menjadi 3,3 persen. Perkiraan itu terungkap dalam laporan World Economic Outlook (WEO) yang baru dirilis, turun 0,2 poin dari estimasi pada Januari.

    Mengutip Antara, Rabu, 10 April 2019, IMF mengatakan ekonomi dunia menghadapi risiko-risiko penurunan yang disebabkan oleh ketidakpastian potensial dalam ketegangan perdagangan global yang sedang berlangsung, serta faktor-faktor spesifik negara dan sektor lainnya.

    Proyeksi 3,3 persen untuk 2019 adalah 0,3 poin di bawah angka 2018, dan diharapkan tumbuh kembali menjadi 3,6 persen pada 2020. Proyeksi laju pertumbuhan negara-negara maju adalah 1,8 persen untuk 2019 dan 1,7 persen untuk 2020, keduanya di bawah tingkat dua persen-plus yang tercatat dalam dua tahun sebelumnya, menurut laporan WEO.

    Untuk negara-negara emerging market dan negara-negara berkembang, IMF memperkirakan tingkat pertumbuhan turun menjadi 4,4 persen untuk 2019, atau 0,1 poin lebih rendah dari pada 2018, dan bahwa ekspansi akan pulih ke tingkat 4,8 persen pada 2020, menyamakan hasil 2017.

    Kepala ekonom IMF Gita Gopinath menulis dalam sebuah posting di blog bahwa proyeksi pelambatan pada 2019 adalah berbasis luas. "Ini mencerminkan revisi negatif untuk beberapa ekonomi utama termasuk kawasan euro, Amerika Latin, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia," kata Gopinath.

    Hilangnya momentum pertumbuhan, kata Gopinath, berasal dari paruh kedua 2018, ketika ekonomi dunia dilanda ekspansi global yang melemah secara signifikan.Laporan WEO mengatakan pertumbuhan global tetap kuat di 3,8 persen di paruh pertama 2018, tetapi turun menjadi 3,2 persen di semester kedua.

    Gopinath menyalahkan situasi sebagian besar pada ketegangan perdagangan global, tekanan ekonomi makro di Argentina dan Turki, gangguan pada sektor otomotif di Jerman, dan pengetatan keuangan bersamaan dengan normalisasi kebijakan moneter di negara-negara maju yang lebih besar.

    Sehubungan dengan pemulihan yang dirasakan pada 2020, ekonom mengatakan itu tidak pasti, menambahkan bahwa itu didasarkan pada asumsi bahwa rebound terjadi di negara-negara emerging market dan negara-negara berkembang.

    Gopinath mengatakan kenaikan kecil didukung oleh kebijakan moneter akomodatif yang signifikan oleh ekonomi-ekonomi utama, dimungkinkan oleh tidak adanya tekanan inflasi meskipun tumbuh dekat potensinya.

    Dia juga mengutip pergeseran ke arah sikap yang lebih akomodatif dalam kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Uni Eropa (UE), Jepang dan Inggris, ditambah Tiongkok meningkatkan stimulus fiskal dan moneternya, serta pandangan positif perjanjian AS-Tiongkok untuk menyelesaikan sengketa perdagangan mereka.
     



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id