Nasionalisme Dukung Tiongkok di Tengah Perang Dagang

    Angga Bratadharma - 07 September 2019 13:02 WIB
    Nasionalisme Dukung Tiongkok di Tengah Perang Dagang
    Ilustrasi. FOTO: AFP
    New York: Mantan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Tiongkok Max Baucus mengatakan rasa nasionalisme yang sedang tumbuh di Tiongkok dapat meningkatkan dukungan di tengah perselisihan perdagangan dengan AS. Sejauh ini, perang dagang masih belum berhenti, bahkan cenderung memanas.

    "Jangan lupa orang-orang Tiongkok sangat sabar, secara historis mereka akan menunggu. Mereka akan memainkan banyak sudut yang berbeda. Mereka akan mencoba bertahan di sana, menunggu Presiden (Donald) Trump datang kepada mereka," kata Baucus, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 7 September 2019.

    "Ada perasaan bahwa nasionalisme menjadi sedikit lebih kuat. Saya pikir itu juga menguatkan Presiden (Tiongkok) Xi (Jinping)," tambah Baucus, yang menjabat sebagai duta besar untuk Tiongkok dari Februari 2014 hingga Januari 2017, di bawah pemerintahan mantan Presiden Barack Obama.

    Menurutnya orang-orang Tiongkok beranggapan bahwa AS berada di posisi yang lemah. Bahkan, tingkat perekonomian mungkin lebih buruk dengan para petani AS yang mendapat pukulan besar dari perang dagang. Kondisi ini mengartikan Tiongkok bisa bertahan di tengah tekanan dalam jangka panjang.

    Adapun Tiongkok memberlakukan tarif baru kepada barang-barang AS tertentu pada Minggu, 1 September 2019 senilai USD75 miliar. Sedangkan tarif AS diberlakukan senilai USD112 miliar atas impor Tiongkok yang juga mulai berlaku pada hari yang sama. Kondisi ini mau tidak mau membuat tensi dagang kian memanas.

    "Dari sudut pandang Tiongkok, Tiongkok kesulitan memercayai Presiden Trump yang terus berubah pikiran. Dia mengeluarkan karpet dari bawah negosiatornya. Orang Tiongkok takut untuk mencapai kesepakatan dengan Presiden ini. Mereka tidak dapat mengandalkannya. Dia (Trump) mungkin berubah pikiran lagi," kata Baucus.

    Lebih lanjut, Baucus mengatakan, Tiongkok dapat menahan lebih banyak rasa sakit daripada Amerika Serikat. Komentarnya baru-baru ini menggemakan sentimen analis lain, yang mengatakan pilihan terbaik Tiongkok adalah memainkan permainan panjang -dengan memanfaatkan kekuatan ekonomi domestiknya daripada bergantung pada perdagangan eksternal.

    Sebelumnya, Tiongkok dan Amerika Serikat mulai saling menerapkan tarif-tarif tambahan terhadap komoditas masing-masing pada Minggu, 1 September. Penerapan itu merupakan peningkatan ketegangan terbaru dalam perang dagang antara kedua negara kendati pembicaraan di antara mereka kemungkinan akan dimulai lagi bulan ini.
     
    Putaran baru tarif AS terhadap beberapa barang Tiongkok dan tarif Tiongkok terhadap barang-barang AS dijadwalkan berlaku pada Minggu pukul 04.01 GMT (11.01 WIB). Pemerintah Trump mulai menerapkan tarif 15 persen terhadap impor barang dari Tiongkok senilai lebih dari USD125 miliar (sekitar Rp1,7 kuadriliun).



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id