Pulih dari Virus Korona

    Kuartal II-2020, JPMorgan Prediksi Ekonomi Tiongkok Tumbuh 15%

    Angga Bratadharma - 27 Februari 2020 09:18 WIB
    Kuartal II-2020, JPMorgan Prediksi Ekonomi Tiongkok Tumbuh 15%
    Ilustrasi. AFP PHOTO/GREG BAKER
    New York: JPMorgan Chase meyakini ekonomi Tiongkok akan bangkit kembali dari imbas negatif virus korona dan tumbuh 15 persen pada kuartal kedua berdasarkan kuartal ke kuartal (qtq). Tidak ditampik, sejak munculnya virus korona, ekonomi Tiongkok mengalami tekanan cukup dalam.

    Ekonom JPMorgan Chase Joseph Lupton memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan negatif sebanyak empat persen untuk kuartal pertama, ketika wabah virus korona membuat banyak aktivitas ekonomi Tiongkok terhenti. Adapun keputusan untuk menghentikan aktivitas dengan harapan menekan penyebaran virus tersebut.

    "Ini bukan hanya melihat hal-hal yang masih tertekan. Itu melihat di mana bagian bawahnya dan apakah kita mulai bergerak ke atas?" tuturnya, seperti dikutip dari CNBC, Kamis, 27 Februari 2020.

    Lebih lanjut, Lupton juga memproyeksikan peningkatan stimulus fiskal dari bank sentral Tiongkok yang diyakini membantu kemampuan Tiongkok untuk pulih secara ekonomi. Komentar Lupton muncul setelah dua hari indeks saham global turun karena wabah virus korona muncul  di luar Tiongkok, dengan sebagian besar kasus dan kematian telah dikonfirmasi.

    Investor masih bergulat dengan potensi dampak ekonomi global dari virus tersebut, yang telah mengganggu rantai pasokan di Tiongkok ketika pabrik-pabrik tutup dan para pekerja tetap di rumah. Selama akhir pekan, Dana Moneter Internasional mengatakan akan memangkas prospek pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebesar 0,4 poin menjadi 5,6 persen.

    "Dalam skenario dasar kami saat ini, kebijakan yang diterapkan di ekonomi Tiongkok akan kembali normal pada kuartal kedua. Akibatnya, dampaknya terhadap ekonomi dunia akan relatif kecil dan berumur pendek," kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva.

    "Tapi kami juga melihat skenario yang lebih mengerikan di mana penyebaran virus berlanjut lebih lama dan lebih global, serta konsekuensi (perlambatan) pertumbuhan menjadi lebih berlarut-larut," tambahnya.

    Sementara itu, jumlah kasus baru dari virus korona yang dilaporkan di luar Tiongkok telah melampaui jumlah kasus baru di Negeri Tirai Bambu untuk pertama kalinya. Hal ini dipastikan oleh Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kepada para diplomat di Jenewa kemarin.
     
    WHO menyebutkan jumlah kasus baru di Tiongkok pada 411 pada hari Selasa. Yang terdaftar di luar Tiongkok berjumlah 427. DrGhebreyesus mengatakan sampai kemarin pagi, 78.190 kasus Covid-19 telah didaftarkan di Tiongkok, termasuk 2.718 kematian. Ada 2.790 kasus dan 44 kematian dilaporkan di 37 negara lain.

    Tedros mengakui bahwa kenaikan dalam kasus-kasus di luar Tiongkok telah mendorong desakan agar pandemi diumumkan. "Kita seharusnya tidak terlalu bersemangat untuk menyatakan pandemi. Deklarasi semacam itu dapat memberi sinyal bahwa kita tidak dapat lagi mengandung virus. Ini tentu tidak benar,” pungkas Ghebreyesus.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id