IMF Kembali Turunkan Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Global

    Angga Bratadharma - 27 Juli 2019 17:01 WIB
    IMF Kembali Turunkan Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Global
    Ilustrasi (AFP PHOTO/Andrew CABALLERO-REYNOLDS)
    New York: Dana Moneter Internasional atau International Monetery Fund (IMF) kembali memangkas perkiraan untuk pertumbuhan ekonomi global. Hal itu dilakukan ketika perang perdagangan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok berlanjut, kebijakan Brexit terus mengkhawatirkan, dan inflasi tetap membisu.

    "Ekonomi global diperkirakan tumbuh sebesar 3,2 persen pada 2019," kata IMF, dalam sebuah laporan yang dirilis, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 27 Juli 2019. Angka pertumbuhan ekonomi yang direvisi adalah 0,1 poin lebih rendah dari perkiraan IMF pada April dan 0,3 poin di bawah perkiraan pertumbuhan IMF pada awal tahun.

    "Risiko perkiraan terutama ke downside. Mereka termasuk ketegangan perdagangan dan teknologi lebih lanjut yang mengurangi sentimen dan memperlambat investasi serta peningkatan panjang dalam penghindaran risiko yang mengekspos kerentanan finansial yang terus menumpuk setelah bertahun-tahun suku bunga rendah," tutur IMF.

    "Memuncaknya tekanan disinflasi yang meningkatkan kesulitan layanan utang, membatasi ruang kebijakan moneter untuk menghadapi penurunan, dan membuat guncangan yang merugikan lebih persisten daripada biasanya," tambah IMF.

    Kembali pada Mei, Tiongkok dan AS masing-masing menaikkan tarif barang miliaran dolar. Kondisi itu memicu kekhawatiran perang perdagangan yang lebih panjang antara ekonomi terbesar dunia. Perang dagang AS-Tiongkok dimulai tahun lalu ketika AS memberlakukan pungutan terhadap impor Tiongkok dan Tiongkok membalas dengan tarif serupa kepada AS.

    Konflik ini telah mengurangi harapan untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan keuntungan perusahaan. Beberapa perusahaan juga memindahkan rantai pasokan mereka keluar dari Tiongkok untuk menghindari tarif. IMF mencatat pertumbuhan volume perdagangan global turun menjadi sekitar 0,5 persen secara tahun-ke-tahun pada kuartal pertama 2019.

    "Lemahnya prospek perdagangan —sampai taraf yang mencerminkan ketegangan perdagangan— pada gilirannya menciptakan hambatan bagi investasi. Lapisan perak tetap kinerja sektor jasa, dengan sentimen relatif tangguh, mendukung pertumbuhan lapangan kerja (yang, pada gilirannya, telah membantu menopang kepercayaan konsumen)," kata IMF.

    Faktor lain yang menghambat prospek pertumbuhan global adalah ketidakpastian keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Pada April, Uni Eropa dan Inggris sepakat untuk memperpanjang batas waktu Brexit hingga 31 Oktober. Namun, tidak jelas apakah kedua pihak akan mencapai kesepakatan untuk mempertahankan beberapa ikatan ekonomi sebelum batas waktu.

    "Perkiraan ini mengasumsikan Brexit tertib diikuti oleh transisi bertahap ke rezim baru. Namun, pada pertengahan Juli, bentuk akhir Brexit tetap sangat tidak pasti," kata IMF.

    Di sisi lain, tekanan inflasi di negara maju seperti AS, Eropa, dan Jepang tetap rendah. Hal ini telah menyebabkan bank sentral utama mempertahankan suku bunga rendah secara historis atau lebih memudahkan sikap kebijakan moneter mereka.

    "Inflasi yang lebih rendah dan ekspektasi inflasi yang lebih rendah mengakar meningkatkan kesulitan layanan utang untuk peminjam. Hal itu membebani pengeluaran investasi perusahaan, dan membatasi ruang kebijakan moneter bank sentral yang menghadapi penurunan. Artinya pertumbuhan bisa secara terus-menerus lebih rendah," pungkas IMF.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id