Tiongkok Catat Pertumbuhan Kuartalan Terendah Akibat Perang Dagang

    Angga Bratadharma - 20 Juli 2019 15:05 WIB
    Tiongkok Catat Pertumbuhan Kuartalan Terendah Akibat Perang Dagang
    Ilustrasi (Mark Ralston/AFP)
    Beijing: Tiongkok merilis angka kuartal kedua 2019 yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 6,2 persen. Pencapaian tersebut merupakan tingkat terlemah setidaknya selama 27 tahun. Kondisi itu terjadi karena perang perdagangan antara Beijing dengan Washington.

    "Dari April hingga Juni, ekonomi Tiongkok tumbuh 6,2 persen dibandingkan dengan tahun lalu," kata Biro Statistik Tiongkok, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 20 Juli 2019.

    Meski cukup rendah, namun hal itu sejalan dengan ekspektasi para analis yang disurvei. Bahkan, angka 6,2 persen lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan 6,4 persen pada kuartal pertama 2019. Pertumbuhan ekonomi kuartal kedua adalah laju paling lambat di negara itu sejak kuartal pertama 1992 -data triwulan paling awal yang tercatat, menurut Reuters.

    Biro statistik Tiongkok mengatakan ekonomi menghadapi situasi yang kompleks karena meningkatnya ketidakpastian eksternal. Ekonomi terbesar kedua di dunia itu juga menghadapi tekanan ke bawah yang baru dan akan berusaha memastikan pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil.

    Tidak ditampik, pertikaian perdagangan Tiongkok selama berbulan-bulan dengan AS telah membebani perekonomiannya. Karenanya menjadi penting perang dagang yang sedang terjadi bisa segera dihentikan demi kepentingan bersama, tidak hanya untuk Beijing dan Washington.

    "Ketidakpastian yang disebabkan oleh perang perdagangan AS-Tiongkok adalah faktor penting dan kami pikir ini akan bertahan, meskipun terjadi gencatan senjata tarif baru-baru ini," kata Ekonom Utama untuk Tiongkok di The Economist Intelligence Unit Tom Rafferty.

    "Bisnis tetap skeptis bahwa kedua negara akan mencapai kesepakatan perdagangan yang lebih luas dan mengakui bahwa ketegangan perdagangan dapat meningkat lagi," tulis Rafferty dalam sebuah catatan.

    Seorang analis mengatakan dia akan mengawasi angka ketenagakerjaan Tiongkok lebih dekat untuk membaca pergerakan ekonomi lebih rinci. Adapun data tenaga kerja menjadi indikator penting guna melihat apakah perekonomian suatu negara sedang bermasalah atau tidak.

    "Apakah pabrik menggugurkan pekerja saat pesanan mereka jatuh? Karena itu mengarah pada target keseluruhan untuk mengatakan 'kami ingin menumbuhkan lapangan kerja'. Dan struktur sosial Tiongkok bergantung pada hal itu. Saya pikir itu sangat penting bagi pihak berwenang," kata Chief Investment Officer Investasi Eastspring Colin Graham.

    Graham mengatakan ada ruang bagi bank sentral Tiongkok atau People's Bank of China (PBoC) untuk memperkenalkan lebih banyak stimulus fiskal dalam beberapa bulan ke depan guna memantapkan perekonomian. Hal itu tentu penting guna memastikan perekonomian Tiongkok tidak terus melambat ke angka yang lebih rendah.

    "Mereka memiliki ruang untuk memastikan ekonomi tidak melambat terlalu cepat," kata Graham, setelah angka PDB Tiongkok dirilis dan berharap pertumbuhan PDB tahun penuh Tiongkok di 2019 akan datar di antara 6,2-6,3 persen dibandingkan dengan tahun lalu.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id