Prediksi 2020, dari Pasar Saham Global hingga Emas Dunia

    Angga Bratadharma - 31 Desember 2019 14:53 WIB
    Prediksi 2020, dari Pasar Saham Global hingga Emas Dunia
    Ilustrasi. FOTO: RBS
    Beijing: Pasar keuangan dunia di 2020 disebut akan sangat terekspos terhadap pelonggaran kebijakan. Namun, ketidakpastian masih terus berlanjut dari sisi ekonomi dan perdagangan global. Diyakini, perselisihan dagang, perlambatan pertumbuhan ekonomi global, Brexit, dan insiden geopolitik tetap menjadi faktor utama yang menekan dan membebani sentimen investor.

    Bahkan, pasar yang rentan dan menantang di tengah ekspektasi yang beragam sudah ditandai oleh kenaikan harga secara bersamaan dalam aset berisiko dan safe-haven pada akhir 2019. Hal itu karena kebijakan moneter yang longgar yang dilakukan oleh bank sentral utama telah memungkinkan likuiditas pasar menjadi lebih besar.

    Mengutip Xinhua, Selasa, 31 Desember 2019, harga emas dunia naik pada 2019, dengan emas berjangka pada 27 Desember ditutup sekitar 18 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya di New York Mercantile Exchange (NYMEX). Tidak ditampik, ketidakpastian yang melanda perekonomian memberi katalis positif bagi harga emas dunia.

    Adapun langkah Federal Reserve AS yang memangkas suku bunga acuan tiga kali termasuk upaya bank sentral global terus meningkatkan cadangan emas adalah di antara gerakan yang mendorong harga emas naik. Bahkan, harga emas dunia mencapai setinggi USD1.560,4 dari sekitar USD1.280 per ons awal tahun ini.

    Level ketinggian baru dalam harga emas diantisipasi di tahun mendatang sebagai tanggapan terhadap risiko potensial dari ketidakpastian politik global dan perselisihan perdagangan. Kondisi semacam ini tentu harus diantisipasi karena kuatnya harga emas dunia juga bisa diartikan ketidakpastian masih tetap tinggi.

    Bank investasi AS, Goldman Sachs memperkirakan, harga emas dunia akan melebihi USD1.600 per ons pada 2020, dan bahwa bank sentral global, yang total pembelian emas batangannya pada 2019 diperkirakan mencapai 750 ton, akan menambah cadangan emas mereka.

    Sementara itu, USD menguat di akhir 2019. Penguatan USD, yang dibandingkan dengan sejarah penurunan setelah perlambatan ekonomi AS dan penurunan suku bunga the Fed, dikaitkan dengan kepercayaan investor bahwa imbal hasil obligasi AS adalah pilihan yang lebih aman, dan fakta suku bunga AS tetap berada di atas negara maju seperti Jepang dan zona euro.

    Namun, USD diperkirakan bergerak lebih lemah pada 2020 karena pasar terbebas dari kekhawatiran perlambatan pertumbuhan global. Menurut sebuah artikel yang diterbitkan secara online oleh mingguan Inggris, The Economist, penurunan yang menentukan dalam takdir USD belum datang, tetapi landasannya sudah diletakkan.

    Dari sisi pasar minyak, di 2019 telah terlihat pasar minyak mengalami volatilitas sebelum berakhir jauh lebih tinggi. Sementara itu, ketika gesekan perdagangan mengancam pertumbuhan global dan permintaan pasar, risiko geopolitik dan perpanjangan pemotongan pasokan minyak oleh produsen minyak utama mendorong harga minyak naik.

    Analis percaya pasar minyak internasional akan tetap rentan terhadap berbagai faktor. Sebagai contoh, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen non-OPEC telah menyetujui pengurangan tambahan 500 ribu barel dalam produksi harian pada kuartal pertama 2020.

    Namun, pengurangan kolektif sebesar 1,7 juta barel per hari akan diimbangi sebagian oleh peningkatan produksi minyak oleh negara-negara termasuk Amerika Serikat dan Brasil. Produksi minyak mentah AS pada 2020 secara resmi diperkirakan akan mencapai 13,2 juta barel per hari, naik 900 ribu barel dari level 2019.

    Sementara dari sisi pasar saham, pasar saham di seluruh dunia pada 2019 sebagian besar mengalami bullish, bertentangan dengan tren ekonomi makro. Di AS, Dow Jones Industrial Average pada 27 Desember naik sekitar 29 persen dibandingkan dengan awal 2019. Sementara Nasdaq Composite naik sekitar 36 persen.

    Pasar saham juga naik di negara lain, terutama di negara-negara Uni Eropa dan Jepang, tetapi tidak begitu banyak terjadi di ekonomi pasar berkembang. Analis mengaitkan kenaikan tersebut terutama dengan penerapan kebijakan moneter yang longgar oleh bank sentral utama, dan kinerja pasar saham AS yang berbeda dengan dolar AS yang lebih kuat secara khusus.

    Di tengah penghentian penurunan suku bunga oleh bank sentral, pasar saham di seluruh dunia memperoleh momentum ke atas dari prospek ekonomi global yang membaik. Semoga hal itu juga ditunjang dengan lonjakan yang dipimpin oleh ekonomi pasar berkembang pada 2020, asalkan situasi perdagangan global tidak kian memburuk.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id