Ekonom: Tiongkok Punya 'Senjata Lain' di Perang Dagang

    Angga Bratadharma - 20 Juli 2019 20:05 WIB
    Ekonom: Tiongkok Punya 'Senjata Lain' di Perang Dagang
    Ilustrasi (FOTO: scmp)
    Beijing: Tiongkok diprediksi tidak akan menggunakan kepemilikan surat utang sebagai senjata melawan Amerika Serikat (AS). Beijing diyakini memiliki senjata lain dalam pertempuran dagangnya dengan Washington. Tidak ditampik, perkembangan negosiasi dagang di antara kedua negara belum terlihat signifikan.

    "Tiongkok memiliki senjata lain dalam pertempuran dagangnya dengan Amerika Serikat dan menjual kepemilikannya di AS tidak akan menjadi salah satunya," kata rekan senior di lembaga think tank Lowy Institute Richard McGregor, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 20 Juli 2019.

    Ketika ketegangan perdagangan antara kedua negara meningkat pada Maret, Beijing mengurangi kepemilikan surat utangnya di AS pada laju tercepat dalam sekitar dua tahun. Langkah ini memicu kekhawatiran bahwa Tiongkok, pemilik asing terbesar surat utang Pemerintah AS, dapat menggunakan apa yang disebut 'opsi nuklir'.

    Opsi itu adalah kemampuan untuk menjual obligasi Pemerintah AS dan memicu lonjakan suku bunga yang akan merusak ekonomi Amerika Serikat. Tidak dipungkiri, perang dagang yang sedang terjadi telah memberikan beban terhadap kedua negara. Bahkan bisa dikatakan, AS menjadi negara yang paling signifikan merasakan dampak negatifnya.

    "Defisit neraca berjalan Tiongkok sekarang di bawah satu persen dari PDB. Jika Tiongkok melakukan sesuatu terhadap USD, itu jelas akan merugikan kepemilikan Tiongkok atas USD. Dan saya juga tidak berpikir mereka ingin melihat pengaruh mengganggu yang akan terjadi," kata McGregor.

    Ia menambahkan Tiongkok memiliki opsi lain dalam pertempuran perdagangan. Dalam hal ini, tambahnya, Beijing dapat mengelola akses asing ke ekonomi Tiongkok, dan memutuskan apakah akan meningkatkan kehadiran perusahaan asing atau menolak akses lebih lanjut.

    "Tiongkok dapat mengelola ekonominya atau memasukkan pengelolaan ke ekonominya," tuturnya.

    Lebih penting lagi, lanjutnya, orang harus memperhatikan bagaimana perusahaan swasta Tiongkok menavigasi jalan mereka melalui masa sulit ini, karena implikasi keberhasilan mereka akan memiliki dampak besar pada ekonomi Tiongkok.

    "Mereka adalah eksportir besar, bukan perusahaan negara. Saya pikir apa yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana mereka mengatur atau membatasi kerusakan. Itu adalah jika perang perdagangan berlangsung, dan terutama jika kita mendapatkan putaran tarif lain," pungkasnya.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id