• DONASI PALU/DONGGALA :
    Tanggal 23 NOV 2018 - RP 51.179.914.135

  • Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (Mandiri - 117.0000.99.77.00) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Mengambil Untung dari Perang Dagang

Eko Nordiansyah - 12 Juli 2018 19:33 wib
Head Group Research Indonesia DBS Maynard Arif (kiri). (FOTO:
Head Group Research Indonesia DBS Maynard Arif (kiri). (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)

Singapura: Indonesia dinilai bisa mengambil keuntungan dari kebijakan perang dagang yang dilakukan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Meskipun berdampak negatif karena Indonesia terancam juga terkena perang dagang AS, namun nyatanya ada sisi positif yang bisa diambil dari kebijakan Donald Trump.

Head Group Research Indonesia DBS Maynard Arif mengatakan AS tengah mengevaluasi produk-produk yang menerima Generalized System of Preferences (GSP). Di antara negara-negara yang produknya ditinjau ulang adalah Indonesia, India, dan Kazakhstan.

"Ini tentunya akan berdampak negatif tentunya karena akan mempengaruhi tarif ekspor kita ke AS. Kuncinya bagaimana pemerintah mendorong ekspor ke nagara lain," kata Maynard di DBS Marina Bay Financial Centre, Singapura, Kamis, 12 Juli 2018.

Sementara itu, Regional Equity Strategist DBS Group Joanne Goh menambahkan, Indonesia bisa menjadi tempat lain bagi industri AS yang tidak bisa masuk ke Tiongkok. Namun banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah, salah satunya adalah mendorong infrastruktur.

"Pertama adalah infrastruktur ini mengapa pemerintah banyak melakukan pembangunan infrastruktur. Terutama infrastruktur untuk energi, lalu ada pembangunan untuk zona industri. Juga infrastruktur untuk logistik, agar lebih industri kondusif," jelas dia.

Selain itu, Indonesia juga harus membenahi upah buruh dalam negeri agar bisa bersaing dengan negara lain. Apalagi upah buruh di Filipina dan Vietnam lebih rendah, sehingga bisa menjadi daya tarik bagi investor asal AS yang terdampak kebijakan perang dagang.

Meski begitu, nilai tambah yang dimiliki oleh Indonesia adalah melimpahnya sumber daya dalam negeri. Hal ini yang tidak banyak dimiliki negara berkembang lainnya sehingga perang dagang bisa menjadi 'lapangan baru' untuk menarik investasi asing langsung.

 


(AHL)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.